73 Golongan

Ketika saya duduk dalam majelis ilmu masail yang diasuh oleh Ustadz Muhammad Ali (Hafidh ‘Alim) sekitar 3 tahun yang lalu, tepatnya pada 2 Muharram 1432 H atau bertepatan dengan 7 Desember 2010, maka beliau menerangkan permasalahan yang sangat menarik bagi saya, yaitu mengenai 73 golongan umat Islam, 72 golongan akan masuk neraka dan hanya 1 golongan yang akan masuk Surga. Saat itu beliau tengah mengajarkan kitab Sulamut Taufiq mengenai perkara-perkara yang dapat menyebabkan seseorang murtad (keluar dari agama Islam), baik murtad karena keyakian (i’tiqad), perbuatan (af’al), maupun perkataan (akhwal).

Beliau menjelaskan bahwa 72 golongan yang akan masuk neraka itu adalah golongan yang memiliki keyakinan yang berbeda dalam ilmu tauhid (ushul) bukan ilmu fiqih (furu’).

Ketujuh puluh dua golongan tersebut telah dijelaskan dengan sangat jelas oleh para ulama terdahulu, karena penyimpangan mereka dalam ilmu ushul.

Tentang Islam akan terpecah menjadi banyak golongan

“Akan ada segolongan umatku yang tetap atas kebenaran sampai hari Kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. melalui riwayat Jabir Ibnu Abdullah r.huma. bersabda :

“Akan ada generasi penerus dari umatku yang akan memperjuangkan yang haq, kamu akan mengetahui mereka nanti pada hari Kiamat, dan kemudian Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, “Wahai Isa, pimpinlah jamaa’ah (sholat), ia akan berkata, “Tidak, kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah saw. dan orang-orang mereka sendiri.”

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Orang-orang Yahudi terpecah kedalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orang-orang Nasrani, dan umatku akan terbagi ke dalam 73 golongan.” (H.R. Sunan Abu Daud)

Dalam sebuah kesempatan, Muawiyah bin Abu Sofyan berdiri dan memberikan khutbah dan dalam khutbahnya diriwayatkan bahwa dia berkata, “Rasulullah saw. bangkit dan memberikan khutbah, dalam khutbahnya beliau berkata, ‘Millah ini akan terbagi ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, (hanya) satu yang masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan dari kalangan umatku akan ada golongan yang mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, urat nadi (pembuluh darah) maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya.” (H.R. Sunan Abu Daud)

Dari Auf bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka.” Lalu beliau ditanya: “Wahai Rasulullah siapakah mereka ?” Beliau menjawab: “Al Jamaah.” (H.R. Sunan Ibnu Majah)

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah.” (H.R. Sunan Ibnu Majah)

“Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.”  Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?”  Nabi menjawab: “Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” (H.R. Imam Tirmizi)

Abdullah Ibnu Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “ Yang mengikutiku dan para sahabatku.” (H.R. Imam Tirmizi)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:  “Orang-orang Yahudi terbagi dalam 71 golongan atau 72 golongan dan Nasrani pun demikian. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (H.R. Imam Tirmizi)

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, ”Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.”

Mu’awiyah Ibnu Abu Sofyan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :  “Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam masalah agamanya terbagi menjadi 72 golongan dan dari umat ini (Islam) akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka, satu golongan yang akan masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan akan ada dari umatku yang mengikuti hawa nasfsunya seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, pembuluh darah, maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya. Wahai orang Arab! Jika kamu tidak bangkit dan mengikuti apa yang dibawa Nabimu…” (H.R. Musnad Imam Ahmad)

Inilah ketujuh puluh dua golongan tersebut, mereka termasuk ke dalam 7 golongan besar:

1. Mu’tazilah, yaitu kaum yang mengagungkan akal pikiran dan bersifat filosofis, aliran ini  dicetuskan oleh Washil bin Atho (700-750 M) salah seorang murid Hasan Al Basri.

Mu’tazilah memiliki 5 ajaran utama, yakni :

  1. Tauhid. Mereka berpendapat :
  • Sifat Allah ialah dzat-Nya itu sendiri.
  • al-Qur’an ialah makhluk.
  • Allah di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata manusia bukanlah Ia.
  1. Keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa Allah SWT akan memberi imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.
  2. Janji dan ancaman. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.
  3. Posisi di antara 2 posisi. Ini dicetuskan Wasil bin Atha  yang membuatnya berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.
  4. Amar ma’ruf (tuntutan berbuat baik) dan nahi munkar (mencegah perbuatan yang tercela). Ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.

Aliran Mu’tazilah berpendapat dalam masalah qada dan qadar, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Manusia dihisab berdasarkan perbuatannya, sebab ia sendirilah yang menciptakannya.

Golongan Mu’tazilah pecah menjadi 20 golongan.

2. Syiah, yaitu kaum yang mengagung-agungkan Sayyidina Ali karamallahu wajhah, mereka tidak mengakui khalifah Rasyidin yang lain seperti Khalifah Sayyidina Abu Bakar, Sayidina Umar dan Sayyidina Usman bahkan membencinya. Kaum ini disulut oleh Abdullah bin Saba, seorang pendeta yahudi dari Yaman yang masuk islam. Ketika ia datang ke Madinah tidak mendapat perhatian dari khalifah dan umat islam lainnya sehingga ia menjadi jengkel.

Golongan Syiah pecah menjadi 22  golongan dan yang paling parah adalah Syi’ah Sabi’iyah.

3. Khawarij, yaitu kaum yang sangat membenci Sayyidina Ali karamallahu wajhah, bahkan mereka mengkafirkannya. Salah satu ajarannya Siapa orang yang melakukan dosa besar maka dianggap kafir.

Golongan Khawarij Pecah menjadi 20  golongan.

4. Murjiah.

  • Al-Murji’ah meyakini bahwa seorang mukmin cukup hanya mengucapkan “Laailahaillallah” saja dan ini terbantah dengan pernyataan hadits bahwa dia harus mencari dengan hal itu wajah Allah, dan orang yang mencari tentunya melakukan segala sarananya dan konsekuensi-konsekuensi pencariannya sehingga dia mendapatkan apa yang dia cari dan tidak cukup hanya mengucapkan saja. Jadi menurut al-murji’ah bahwa cukup mengucapkan “Laailahaillallah” dan setelah itu dia berbuat amal apa saja tidak akan mempengaruhi keimanannya, maka ini jelas bertentangan dengan hadits “dia mencari dengan itu wajah Allah”, maka ini adalah bentuk kesesatan al-murji’ah.
  • Al-Mu’tazilah dan Al-Khawarij meyakini bahwa seorang yang melakukan dosa-dosa besar kekal di dalam api neraka, dan ini terbantah dengan sabda Rasulullah “sesungguhnya Allah mengharamkan atas api neraka orang yang mengucapkan Laailahaillallah”. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya pengharaman api neraka membakar orang-orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” itu ada dua, pertama pengharaman secara mutlak dan ini bagi orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” dengan mendatangkan seluruh syarat-syaratnya, konsekuensi-konsekuensinya dan kandungan-kendungannya sehingga dia terlepas dari syirik besar, syirik kecil dan perbuatan-perbuatan dosa besar, kalaupun dia terjatuh kepada perbuatan dosa maka dia bertaubat dan tidak terus menerus diatasnya, maka orang yang sempurna tauhidnya seperti ini diharamkan api neraka untuk membakarnya secara mutlak, yakni dia tidak disentuh oleh api neraka sama sekali. Kemudian yang kedua, yaitu pengharaman yang tidak mutlak dan bersifat kurang, yang dimaksud yaitu pengharaman untuk kekal didalam api neraka, ini bagi orang-orang yang kurang tauhidnya sehingga dia terjatuh kedalam syirik kecil atau dosa-dosa besar yang dia terus menerus didalamnya, maka orang yang demikian ini diharamkan atas api neraka untuk membakarnya dalam jangka waktu yang kekal selama dia belum mengugurkan tauhidnya ketika didunia. Oleh karena itu pendapat al-mu’tazilah dan al-khawarij yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal didalam api neraka, ini adalah pendapat yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah.
  • Tidak ada dzikir yang lebih utama di dunia ini kecuali “Laailahaillallah”.
  • Salah satu sebab dikabulkannya doa adalah dengan menggunakan sifat Allah dan nama-Nya, secara khusus memanggil Allah dengan uluhiyah-Nya, meminta dan berdoa kepada Allah dengan menyebutkan rububiyah-Nya.

“Laailahaillallah” merupakan dzikir dan doa, disebut dengan doa karena orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” mengharapkan ridha Allah dan ingin sampai kepada surga-Nya.

Golongan Murjiah pecah menjadi 5 golongan.

5. Najariyah, Kaum yang menyatakan perbuatan manusia adalah mahluk, yaitu dijadikan Tuhan dan tidak percaya pada 20 sifat wajib bagi Allah.

Golongan Najariyah pecah menjadi 3 golongan.

6. Al Jabbariyah, Kaum yang berpendapat bahwa seorang hamba adalah tidak berdaya apa-apa (terpaksa), ia melakukan maksiyat semata-mata Allah yang melakukan.

Golongan Al Jabbariyah pecah menjadi 1 golongan.

7. Al Musyabbihah / Mujasimah, kaum yang menyerupakan pencipta yaitu Allah dengan manusia, misal bertangan, berkaki, duduk di kursi.

Golongan Al Musyabbihah / Mujasimah pecah menjadi 1 golongan.

 

Dan satu golongan yang selamat adalah Ahli Sunah Wal Jama’ah.

Ahli Sunah wal Jama’ah

1. Pengertian

Secara etimologi Ahli adalah kelompok/keluarga/pengikut. Sunah adalah perbuatan-perbuatan Rasulullah yang diperagakan beliau untuk menjelaskan hukum-hukum Al Qur’an yang dituangkan dalam bentuk amalan.

Al Jama’ah yaitu Al Ummah ( Al Munjid) yaitu sekumpulan orang-orang beriman yang di pimpin oleh imam untuk saling bekerjasama dalam hal urusan yang penting.

Menurut istilah Ahli Sunah wal Jama’ah adalah sekelompok orang yang mentaati sunah Rasulullah secara berjama’ah, atau satu golongan umat islam di bawah satu komando untuk urusan agama islam sesuai dengan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya.

2. Syarat terbentuknya Al Jama’ah

Secara singkat telah diterangkan oleh Sayyidina Umar r.a.: ” Tidak ada islam kecuali dengan jama’ah, Tidak ada jama’ah kecuali dengan imam, Tidak ada imam kecuali dengan Bai’at, Tidak ada bai’at kalau tidak ada taat.”

Dan bai’at bukanlah syahadat, sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang salah, dan apalagi dengan pengkafiran di luar kelompok tersebut.

3. Terpeliharanya Islam

Dalam masa-masa kerusakan islam Allah swt. menunjukkan kasih sayangnya dengan membangkitkan para mujadidnya setiap 100 tahun sekali yang meluruskan kembali pemahaman ajaran Rasul sesuai dengan kebutuhan  pemahaman mereka saat itu hingga turunnya masa imam Mahdi.

Wallahu a’lam bish shawab

Berbagai sumber

Kisah Ajaib di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Habib:

Subhanallah tanda-tanda kekuasaan Allah! Alhamdulillah kita dan teman-teman sempat silaturrahim ke Masjid Baiturrahim, Baiturrahman dan beberapa Masjid lainnya di Aceh Juni 2010 kemarin dan melihat langsung keadaan di sana setelah 6 tahun berlalu. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran.

Originally posted on Iwan blog world:

TSUNAMI yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam merupakan peristiwa bersejarah paling kelam sepanjang abad 20. Bencana dahsyat itu telah menewaskan lebih dari 160.000 jiwa. Semua warga Aceh belum bisa melupakan peristiwa besar ini.

Banyak cerita nyata yang terselip bahkan tak bisa diterima logika. Satu dari sekian banyak cerita nyata itu adalah Masjid Baiturrahim. Keganasan tsunami tak mampu meluluhlantakkan Masjid yang terletak persis di bibir pantai Ulee Lheue itu.

Berdiri kokoh di bekas amukan tsunami, Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, menyimpan sejarah panjang yang unik dan heroik.

Azan baru saja berkumandang, pertanda salat segera dimulai di Masjid Baiturrahim. Warga berbondong-bondong memasuki Rumah Allah untuk salat berjamaah. Usai salat, sebagian warga melanjutkan dengan beri’tikaf. Begitulah aktivitas Masjid ini setiap hari.

“Salat lima waktu secara berjamaah selalu kami gelar di sini. Bahkan pada hari terjadinya tsunami (26 Desember 2004), kami juga menggelar salat Zuhur berjamaah di sini,”…

View original 293 more words

Pengakuan Tentara, Israel Hancur Jika Jemaah Shalat Subuh Sebanyak Shalat Jum’at

Cyber Sabili-Pakistan. Raiwind, seorang ulama besar Pakistan, Syaikh Maulana Tariq Jamil menyampaikan pengalaman da’wahnya ketika pergi da’wah ke Jordania. Beliau pergi ke daerah perbatasan Jordania-Israel. Sampai di daerah perbatasan, ketika rombongan Syaikh Maulana Tariq Jamil selesai menunaikan solat subuh, di salah satu masjid di dekat perbatasan, tiba-tiba seorang tentara Israel dari luar melihat ke arah dalam masjid. Setelah melihat sebentar lalu tentara Israel itu berlalu pergi. Maka Syaikh Maulana Tariq Jamil menghampiri tentara Israel itu dan bertanya apa yang dia lakukan tadi.

“Saya hanya ingin melihat berapa jumlah orang Islam yang hadir sholat Shubuh di masjid”, kata tentara Israel itu. Syaikh Maulana Tariq Jamil sambil keheranan bertanya “Mengapa?” Dia pun menjawab “Di dalam kitab kami (Kitab Taurat) ada tertulis ‘Jika di seluruh dunia jumlah orang Islam yang hadir untuk sholat Shubuh berjemaah di masjid sama banyak dengan jumlah jemaah sholat Jumat, maka saat itu Israel akan hancur.’ Tetapi ketika tadi saya lihat di masjid jumlah orang Islam yang datang untuk solat subuh berjemaah masih sedikit, maka hati saya tenang, karena umat Islam pasti tidak bisa mengalahkan kami.” Mendengar pembicaraan ini Syaikh Maulana Tariq Jamil sangat keheranan.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sholat Shubuh adalah sholat yang paling sulit ditunaikan, karena Shubuh adalah saat masih gelap, dingin, dan saat orang-orang sedang tertidur. Jika sholat Shubuh bisa ditunaikan maka sholat lainnya pastilah akan mudah ditunaikan.

Sebagian besar umat Islam tidak mengetahui pengakuan tentara Israel ini, bahwasanya Israel akan hancur jika jemaah sholat Shubuh umat Islam yang hadir sebanyak sholat Jumat.

Orang Yahudi selalu berusaha dengan berbagai cara supaya umat Islam meninggalkan sholat 5 waktu. Karena orang Yahudi faham jika  orang Islam meninggalkan sholat fardhu, maka Allah swt. pasti tidak akan menolong umat Islam. Sehingga semua usaha umat Islam untuk membela Palestina selalu mengalami kegagalan.

Source

Fitnah Akhir Zaman

Kaum Muslimin Dihancurkan dari Dalam

Tsauban Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya : Sesungguhnya Allah Taala telah menyatukan untukku dunia, lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya seluas yang disatukan Allah untukku dan aku diberi dua harta simpanan yaitu emas dan perak lalu aku memohon kepada Rabb-ku untuk umatku agar dia tidak menghancurkannya dengan kelaparan yang menyeluruh, dan menguasakan atas mereka musuh-musuhnya dari selain mereka sendiri lalu menghancurkan seluruh jama’ah mereka, dan Rabb-ku berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku jika telah memutuskan satu qadha’ maka tidak dapat ditolak, dan Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak akan menghancurkan mereka dengan kelaparan yang menyeluruh dan tidak akan menguasakan atas mereka musuh-musuh dari selain mereka yang menghancurkan seluruh jama’ahnya walaupun mereka telah berkumpul dari segala penjuru – atau mengatakan- : Orang yang ada diantara penjuru dunia- sampai sebagian mereka membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lainnya” [Hadits Shahih Riwayat Muslim (2889)]

Sungguh, meskipun kaum kafir dari seluruh dunia bersatu, mereka tidak akan mampu menguasai seluruh kaum muslimin sampai sebagian kita membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lain. Inilah fitnah akhir zaman yang mau tidak mau harus kita hadapi. Pembunuhan antar sesama kaum muslimin seperti yang ada di Iraq dan Timur Tengah. Sungguh fitnah zaman ini adalah perpecahan dan permusuhan di antara kaum muslimin sendiri. Belum lagi ditambah ancaman dan terkaman dari orang-orang kafir.

Sumber Fitnah dari Nejd (Arab Saudi)

Dari Ibnu Umar r.huma., Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

Ya Allah berkahilah Syam kami dan Yaman kami. Para sahabat berkata, juga Nejd kami?” Rasulullah berkata, “Ya Allah berkahilah Syam kami dan Yaman kami”. Para sahabat berkata, “juga Nejd kami?” –Saya (perawi) menduga beliau menyebutkan tiga kali- kemudian Nabi bersabda, “Dari sanalah (Nejd) keguncangan dan fitnah bermula, dan di sana pula muncul dua tanduk syaithan.” (H.R. Bukhari)

Para Wahabi / Salafy memahami Nejd dalam hadits di atas adalah Iraq. Mereka berargumentasi bahwa jika dipandang dari Madinah, Nejd (Iraq) berada di timurnya sedangkan Nejd (pedalaman Arab) berada di selatannya. Berikut hadits shohih yang mereka anggap menguatkan pendapatnya:

  • Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.huma., Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam menghadap ke arah timur  kemudian bersabda : “Ketahuilah sesungguhnya fitnah berasal dari sini, sesungguhnya fitnah berasal dari sini, di sinilah muncul tanduk syaithan.” (H.R. Muslim)
  • Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul). (HR Bukhari no 7123, Juz 6 hal 2074. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban)

Padahal telah diketahui bersama, bahwa ketika Nabi bersabda demikian, beliau berada di Madinah, dan ketika itu beliau menghadap ke arah timur sedangkan timur Madinah adalah  Nejd (pedalaman Arab) bukan Iraq (Silakan lihat di peta dunia, khususnya peta Saudi Arabia) Saya yakin Nabi tidak bingung arah, sehingga bingung mana timur, mana utara. Saya yakin, orang yang membuat peta juga tidak bingung arah, sehingga timur dianggap utara dan selatan dianggap timur. Sungguh, selatannya Madinah adalah Makkah, bukannya Nejd seperti yang dikira oleh orang-orang yang bingung arah itu. Kami sarankan bagi mereka membeli kompas dan datang sendiri ke sana jika tidak mempercayai peta. Ada garis lurus ke timur dari Madinah menuju kota Riyadh (salah satu kota di wilayah Nejd yang dulu merupakan tempat tinggal orang-orang Badui). Tidak meleset ke utara, tidak pula meleset ke selatan. Nejd (timurnya Hijaz) sendiri berada di antara Madinah (baratnya) dan Yamama (timurnya).

Catatan:

  • Seorang muslim tidak boleh mengingkari hadits di atas apalagi riwayatnya shahih dengan periwayat dua imam hadits terpercaya (Imam Bukhari dan Imam Muslim)
  • Seorang muslim tidak boleh berdusta dan asal berdalih, mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, serta menyembunyikan kebenaran hanya untuk membela golongannya. Bukan untuk menegakkan kebenaran dan melayani kepentingan kaum Muslimin seluruhnya. Dari ‘Aisyah Radliyallaahu anha bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah ialah pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya.“ (Riwayat Muslim).
  • Salafy / Wahabi tidak perlu khawatir jika mereka merasa benar-benar berada di atas kebenaran. Atau bahkan merasa paling benar sendiri. Siapa tahu yang dimaksud Rasulullah adalah fitnah lain seperti kemungkinan munculnya para du’at penyeru pintu Jahannam dari Nejd (Arab). Mereka menyerukan egoisme dan sombongisme berkedok monoteisme (tauhid) sehingga yang mengijabahinya akan memasuki pintu Jahannam itu menjadi gerombolan anjing-anjing neraka.
  • Maksud asal fitnah dari Nejd (Arab Saudi) tidak bisa kemudian dilihat dari lahirnya saja. Boleh jadi kita tertipu melihat suasana yang terkesan tenang dan baik. Hal ini seperti tsunami. Asalnya gempa di kedalaman laut. Tapi lautnya sendiri terlihat tenang setelah gempa itu. Kemudian negeri-negeri di sekitarnya mengalami imbas kerusakan yang dahsyat.
  • Dalam sejarah Islam, satu-satunya kelompok yang bercukur adalah para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal tersebut terjadi di masa lalu dan kini sudah ditinggalkan. (Sumber : rubrik : Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th.III Syaban 1426 H / September 2005 M) lihat juga: http://allangkati.blogspot.com/2010/06/wilayah-nejd.html
  • Kesimpulan: Kita harus hati-hati dengan semua syubhat dan fitnah yang berasal dari negeri Nejd (timurnya Hijaz). Kita harus belajar sejarah (tarikh) khususnya tentang negeri Nejd sejak zaman nabi, dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab (Gerakan Wahabi) sampai terbentuknya Kerajaan Saudi Arabia. Kita juga harus selalu memantau Nejd, negeri timurnya Madinah, yang di sana ada kota Riyadh, ibukotanya Kerajaan Saudi Arabia (KSA), termasuk gerak-gerik mereka terhadap kepentingan Kaum Muslimin di seluruh dunia. Hati-hatilah fitnah dari Nejd (timurnya Hijaz)!

Dai-dai Arab Mengajak ke Pintu Jahannam

Kemudian, mari kita bahas hadits shahih berikutnya:

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Taala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; “Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ?” Beliau bersabda : “Ada”. Aku bertanya : ” Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?” Beliau bersabda :” Ya, akan tetapi di dalamnya ada kabut (dakhanun)” . Aku bertanya : “Apakah dakhanun itu ?”. Beliau menjawab : “Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah.” Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?” Beliau bersabda : “Ya, da’i -da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya.”Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku”. Beliau bersabda :“Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita.” Aku bertanya : “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?” Beliau bersabda : “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya :“Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ?” Beliau bersabda : “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu” (H.R. Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas dapat difahamai dengan bantuan Hadits Shahih Riwayat Ahmad:

Periode  an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode  khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam,”(HR Ahmad 17680)

Dengan demikian, dapat dibagi kapan terjadinya hal-hal tersebut:

  • Masa kebaikan (Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin / khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah)
  • Masa keburukan (perpindahan dari khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah menuju  mulkan aadhdhon) Masa-masa tersebut sangat buruk mengingat pembunuhan kaum muslimin oleh kaum khawarij seperti pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib, pembantaian putra beliau sekaligus cucu Rasulullah, Sayyidina Husein dan pembantaian-pembantaian lainnya.
  • Masa kebaikan yang sedikit tercemar/keruh (mulkan aadhdhon): Masa-masa Khilafah Islamiyah Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyyah, dan Dinasti Turki Usmaniyah. Mereka hanya menggigit Al Qur’an dan Sunnah sehingga di beberapa tempat muncul dakhanun (Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku). Lalu muncullah berbagai macam takhayul, bid’ah maupun khurafat. 
  • Masa keburukan (mulkan jabbriyyan): Masa-masa negeri Islam yang terpecah-belah menjadi negara-negara kecil dengan ciri memerintah secara otoriter (memaksakan kehendak). Ada Kerajaan Saudi Arabia, Republik Mesir, Turki, Iraq, Iran, Suriah, Yaman, Indonesia, Malaysia, serta Negara Islam kecil lainnya. Dalam masa ini, sejak awal dimulainya sampai sekarang, keluarlah dai -dai yang mengajak ke pintu Jahannam. Mereka inilah yang menghasilkan khawarij-khawarij modern dengan panji-panji terorismenya. Masa-masa da’i penyeru kesesatan ini adalah masa-masa kita sekarang!
  • Setelah itu terulang masa kebaikan lagi yang datangnya Insya Allah sebentar lagi. Kebaikan itu adalah khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Masa-masa tersebut kemungkinan terjadi dengan dimulainya pemba’iatan Imam Mahdi secara paksa di depan Baitullah di Mekkah, Ashabu Rayati Sud (Pasukan Panji Hitam) dari Timur, Penaklukan Arab Saudi dan Tegaknya Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah.

Jika diperhatikan, saya mengklasifikasikan masa keburukan sebagai masa meraja-lelanya kaum khawarij yang membunuh sesama muslim. Sebab fitnah ini sangat merepotkan untuk kita berantas, kaum khawarij itu muslim, bahkan terlihat lebih sholih dari kita (sehingga kita kesulitan untuk memerangi mereka secara frontal), tapi mereka terbukti fasik (suka mencaci muslim & akhlaqnya bejat) karena mereka selalu memandang hitam-putih (tidak terlihat kebijaksanaannya), dan akhirnya kafir (jika mereka mengkafirkan atau membunuh muslim yang tidak kafir). Pelajaran terpenting dari hadits-hadits di atas bukanlah sebuah penguatan untuk menuduh kelompok ini sesat atau kelompok anu sesat. Tetapi, pelajaran terpenting yang harus diambil seorang muslim adalah:

  • Mengingkari kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku (Sisa-sisa tradisi dakhanun). Kemungkinan tradisi dakhanun itu dianggap baik, tapi itu bukan sunnah dan petunjuk nabi. Kita pun disuruh mengingkari, maka marilah kita taat. Dengan demikian, kita harus berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah.
  • Di Indonesia, pewaris dakwah Islam berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan madzhab Syafi’i yang konsisten mewarisi dakwah Islam dari masa kebaikan yang sedikit tercemar/keruh (masa mulkan aadhdhon) direpresentasikan oleh NU. NU sendiri sebetulnya anti bid’ah dan memeranginya sehingga nasehat untuk mereka adalah: “Bersihkan sisa-sisa tradisi dakhanun. Ada beberapa bid’ah yang bisa memperkeruh dakwah NU” Jika mereka mampu melakukannya, besar kemungkinan merekalah yang akan menjadi dakwah terdepan dalam menyokong masa khilafatun ala minhaj an-Nubuwwah. Pun begitu dengan dakwah lain juga harus introspeksi diri agar membersihkan dirinya dari dakhanun, bid’ah maupun penyakit lain. Dengan demikian, NU dan dakwah lain yang sejalan seperti Muhammadiyah, Persis, PKS, dsb bisa bersatu di bawah Al Qur’an dan Sunnah menjadi Al Jama’ah penyokong terkuatkhilafatun ala minhaj an-Nubuwwah. Jika itu terjadi, ramalan Rasulullah bahwa Islam akan bangkit dan datang dari timur (Nusantara) akan benar-benar terjadi.
  • Dakwah yang menentang dan memerangi dakhanun beserta bid’ah-bid’ahnya secara berlebihan (ekstrim) adalah du’at yang menyeru ke pintu jahannam. Disebut demikian karena kebencian dan permusuhan yang berlebihan sehingga jika diijabahi akan terjadi perselisihan yang banyak, perpecahan dan banyak pembunuhan terhadap sesama muslim yang mengantarkan pelakunya masuk jahannam. Kaum muslimin pun terancam dari bahaya lidah dan tangan mereka. Mereka ini menghadirkan masa keburukan buat kaum muslimin. Mereka juga mengikuti kaum Yahudi yang mengusung faham egoism dan terjangkiti penyakit sombong. Anggapan sesat mereka adalah hanya mereka sendiri yang benar dan mereka menolak kebenaran dari luar kalangannya. Ketahuilah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat atom rasa sombong. Kemudian beliau bersabda, Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (H.R. Muslim) Kemudian, mereka hampir sangat sulit diajak kembali karena mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya.
  • Tidak mengijabahi da’i-da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Ciri-ciri mereka adalah mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Karena kulit dan bahasa Rasulullah saw. adalah Arab, maka da’i-da’i yang dimaksud adalah orang Arab.
  • Sikap kita jika bertemu mereka: Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya, seperti Kekhalifahan Islam Turki Usmani atau Kekhalifahan Islam yang lain. Bukan jama’ah-jama’ah kecil dengan imamnya yang menyeru pada golongannya.
  • Karena sekarang kita tidak punya jama’ah yang dimaksud dan imamnya maka: Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu. Pokok pohon yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah. Hati-hati saudaraku, jangan sampai tertipu oleh da’i yang dimaksud, padahal kita disuruh menghindari semua firqah. Taatlah pada Rasul yang menyuruh kita menghindari semua firqah. Jika tidak, kita mudah disesatkan untuk berpegang teguh pada golongan mereka, bukan berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Cukup kita semua berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah. Kemudian bersabar menunggu datangnya Imam Mahdi.
  • Ali bin Abi Thalib berkata: “Jama’ah adalah kumpulan orang-orang yang berada dalam kebenaran sekalipun jumlahnya sedikit. Sedangkan firqah adalah kumpulan orang-orang batil sekalipun jumlahnya banyak.” Dengan demikian, syarat agar kumpulan itu disebut jama’ah adalah “kebenaran” yang bersama-sama ditegakkannya, bukan “bajunya” atau “organisasinya”.
  • Orang-orang NU, Muhammadiyah, Persis, PKS, IM, dan dakwah lain yang sejalan adalah satu golongan “ahlus sunnah wal jama’ah” jika mereka berada dalam kebenaran, memenuhi syarat firqatun najiyah dan tidak teracuni oleh ciri-ciri firqah penganut ahli kitab. Dalam sejarahnya, perselisihan di antara mereka hanya masalah cabang dan hampir tidak pernah antar mereka saling mengkafirkan satu sama lain dan menganggap yang lainnya tidak selamat. Perbedaan baju yang mereka kenakan sebetulnya hanya metode berdakwah dan berjuang menegakkan kebenaran (Islam). Bid’ah-bid’ah yang ada pada diri mereka harus segera dibersihkan agar dapat bersatu dalam al jama’ah. Sisa-sisa fanatisme, egoisme dan kesombongan dari diri mereka, juga harus dibersihkan agar dapat bersatu dalam al jama’ah. Akan tetapi jika tidak, kesemuanya itu hanyalah firqah-firqah yang mirip sekte-sekte lain semisal Ahmadiyah ataupun JIL.
  • Kenalilah Imam Mahdi dan pengikutnya, beliau datang dari timur, menaklukkan Arab, Persia, Rum dan Dajjal. Sembari menunggu beliau, marilah kita terus menimba ilmu yang bermanfaat, memperbaiki diri dengan amal shalih, menyelamatkan saudara semuslim dari bahaya lidah dan tangan kita, menjaga ukhuwah islamiyah, amar ma’ruf nahi munkar dan terus tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.
  • Kesimpulan: Berpegang teguhlah pada Al Qur’an dan Sunnah! Hindari semua firqah apalagi firqah yang diseru oleh orang Arab. Apalagi jika menilik dua hadits sebelumnya, maka: Hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang Arab dari Nejd (Hijaz).
  • Salafi / Wahabi tidak perlu tambah risau jika mereka merasa benar-benar berada di atas kebenaran. Atau bahkan merasa paling benar sendiri. Siapa tahu yang dimaksud Rasulullah adalah dakwah sesat dari Nejd setelah dakwah Salafy (dakwah sesat itu bukan dakwah salafiyah) yang mengajak ke pintu Jahannam dengan memecah belah agama, fanatik golongan, hizbiyah, memusuhi dan mencaci maki kaum muslimin serta memerangi (membunuhi) kaum muslimin baik yang sholih maupun yang jahat.

Fitnah Ulama Buruk yang Mengekor Penguasa

Beberapa hadits terkait hal ini:

  • Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)
  • Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR. Asysyihaab)
  • Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)
  • Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
  • Para ulama fiqih adalah pelaksana amanat para rasul selama mereka tidak memasuki (bidang) dunia. Mendengar sabda tersebut, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa arti memasuki (bidang) dunia?” Beliau menjawab, “Mengekor kepada penguasa dan kalau mereka melakukan seperti itu maka hati-hatilah terhadap mereka atas keselamatan agamamu. (HR. Ath-Thabrani)
  • Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)

Sebagaimana nasehat di atas, hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang Arab dari Nejd (Hijaz). Nah, selain keutamaan ulama’ (baik berdasarkan Al Qur’an maupun Sunnah) ada juga kesalahan ulama’ yang buruk. Inilah fitnah dari ulama’ yang buruk. Ciri-ciri mereka adalah bergaul erat dengan penguasa serta tamak sehingga tidak bijaksana. Amal perbuatannya juga tidak seperti ajarannya. Jika dia mengajarkan taat pada Imam Kaum Muslimin, maka seharusnya dia benar-benar taat. Salafi – Wahabi tidak perlu semakin risau hanya karena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berasal dari Nejd (Hijaz) dan dikenal sangat dekat dengan Ibnu Saud sehingga mereka berdua sangat heroik mengusir Khilafah Islamiyah Turki Usmani dan kemudian mendirikan Kerajaan Saudi Arabia. Toh, beliau juga banyak berjasa dalam memurnikan tauhid, bukan? Saya sendiri pernah membaca salah satu kitabnya dan memang bagus. Tapi saya tidak tahu apakah akhlaq beliau sebagus kitabnya. Maka, tidak patut bagi seorang muslim memfitnah seorang muslim lain apalagi ulama’ tanpa bukti yang nyata. Maka kita harus mempelajarisejarah Kerajaan Arab Saudi dulu baik-baik. Mereka yang sangat gemar menuduh dan memfitnah muslim lain apalagi ulama’ Kaum Muslimin tentu dipertanyakan keislamannya.

Pemimpinnya disangka punya pegangan, padahal sama sekali tidak demikian !!!

Hadits berikutnya:

Sungguh, menjelang terjadinya Kiamat ada masa-masa harj (kerusuhan / huru-hara)” Para sahabat bertanya : Apakah harj itu ?” Beliau bersabda : Pembunuhan.” Mereka bertanya : “Apakah lebih banyak jumlahnya dari orang yang kita bunuh? Sesungguhnya kita dalam satu tahun membunuh lebih dari tujuh puluh ribu orang?” Beliau bersabda :Bukan pembunuhan orang-orang musyrik oleh kalian itu, tetapi pembunuhan dilakukan oleh sebagian kalian terhadap sesamanya (kaum muslimin) ” Mereka bertanya : “Apakah pada masa itu kami masih berakal?“ Beliau bersabda, “Akal kebanyakan manusia zaman itu dicabut, kemudian mereka dipimpin oleh orang-orang yang tak berakal, ke­banyakan manusia menyangka para pemimpin itu mempunyai pegangan, padahal sama sekali tidak demikian. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Hadits shahih.)

Hampir tidak ada satupun orang yang berilmu mengingkari adanya fitnah pembunuhan terhadap sesama muslim. Lihatlah konflik di Iraq, Afghanistan, Pakistan dan di negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Biasanya konflik terjadi antara kaum Syi’ah Ekstrim dengan Sunni Ekstrim yang dipicu fitnah khowarij. Berdasarkan hadits di atas, saya bernasehat:

“Gunakan kembali akalmu, jangan mau dipimpin oleh orang (da’i-da’i) yang tidak mempergunakan (meremehkan) akalnya. Apalagi pemimpin (da’i-da’i) yang menyuruhmu meninggalkan akal agar tunduk pada ajaran-ajaran mereka (taklid buta). Banyak orang tertipu. Sekali lagi, banyak orang tertipu. Kebanyakan manusia menyangka para pemimpin itu punya pegangan (berperang di atas kebenaran, Al Qur’an dan Sunnah). Padahal sama sekali tidak demikian. Mereka memfitnah kaum selain mereka, menimbulkan permusuhan dan bersegera melakukan pembunuhan terhadap sesama muslim. Saya nasehatkan kepada kaum muslimin; mohon ditahan lidah dan tangan kalian dari saudara sesama muslim. Janganlah saling membunuh, hanya karena perbedaan-perbedaan yang tidak mengeluarkan kita dari Islam.”

Keluar dari Jamaah Kaum Muslimin

Barangsiapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jama’ah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliyah. Barangsiapa berperang dibawah panji ashabiyah, emosi karena ashabiyah lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliyah. Barangsiapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslimin) lalu membunuhi mereka, baik yang shalih maupun yang fajir (jahat) dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukminin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya” [H.R. Muslim]

Jangan memisahkan diri dari Jama’ah Kaum Muslimin dengan embel-embel ashabiyah. Mereka bisa dikenali dari nama-nama mereka dan panji-panji mereka. Mereka tidak lagi menamakan diri muslim (kaum muslimin), melainkan nama-nama jahiliyah yang mereka ada-adakan. Mereka mudah tersulut emosinya ketika disinggung kebanggaan ashabiyahnya. (lihat: Saksikanlah bahwa kami adalah Kaum Muslimin)Sesungguhnya mereka bukan golongan Nabi (Kaum Muslimin) sekalipun mereka mengaku-ngaku sebagai golongan nabi atau bahkan karena kebodohannya menganggap sebagai golongan yang paling benar (selamat). (lihat: Firqatun Najiyah)Sesungguhnya kebanyakan manusia menyangka mereka punya pegangan (kebenaran, Al Qur’an dan Sunnah), padahal sama sekali tidak demikian. Ciri-ciri mereka adalah dipimpin orang-orang tidak berakal (logikanya rusak sehingga tidak mampu berfikir secara bijaksana) !!! (lihat tulisan: Pandangan Islam terkait Akal, Sombong: Pintu Neraka)

Salafi / Wahabi tidak perlu tersinggung. Lalu berkata bahwa saya (penulis) memahami hadits-hadits di atas secara serampangan tanpa ilmu, tidak ilmiah, tidak faham, tidak ada dasarnya, mengikuti akalnya yang bodoh dan ahlul bid’ah. Lalu saya diminta mencari ilmu dulu dari mereka yang punya pegangan kuat (Al Qur’an dan Sunnah) serta pemahaman yang benar (Manhaj Salafus Sholih). Jika ciri-ciri di atas tidak ada pada golongan kalian, maka janganlah bersikap ashabiyah dengan mengorbankan kehormatan saudaramu semuslim. Bukankah orang yang berkata tanpa dasar (ilmu) itu tidak baik? Bukankah golongan yang berada di atas kebenaran, tidak perlu ragu dan seharusnya bersikap tenang?

KHAWARIJ: Benih Perselisihan Kaum Muslimin

Dalam sebuah hadits shahih dalam Musnad (disebutkan). Suatu hari Nabi melewati orang ini dalam keadaan sujud. Maka beliau menghampiri para sahabatnya. Beliau berkata : “Siapa yang mau membunuhnya ?” Abu Bakar mengiyakan, lalu bangkit dengan pedang terhunus. Kemudian beliau menghampiri orang itu, beliau mendapati sedang sujud. Maka beliaupun kembali (tidak membunuhnya) seraya berkata :”Ya Rasulullah, bagaimana aku membunuh yang mengucapkan laa illaha illa Allah?”. Demikian juga yang dilakukan Umar. Kemudian Ali menyanggupinya, beliau bergegas ke sana, tapi orang tersebut sudah tidak ada lagi. Kemudian. Beliau bersabda : “Seandainya ia berhasil dibunuh, tentu tidak akan ada lagi dua orang yang berselisih di antara umatku”

Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca Al-Qur’an tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya”. [H.R. Bukhari & Muslim]

Mencaci orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kufur[Hadits Riwayat Bukhari No. 48, Muslim No. 64]

Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku, yaitu sebagian kalian membunuh yang lain” [Hadits Riwayat Bukhari No. 121. Muslim No. 65]

Hadits-hadits di atas mencirikan kaum khawarij yang luar biasa dalam beribadah namun tidak memahami Islam dengan benar. Mereka tidak faham ‘kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama’ (seperti membunuh muslim tanpa alasan syar’i) serta kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama (seperti berhukum bukan dengan hukum Islam). Mereka suka mengkafirkan, bersikap keras terhadap sesama muslim dan mereka tidak akan segan-segan membunuhnya karena kaum khawarij bersikap ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) dalam beragama. Mereka mengikuti ahli kitab yang sok tahu, memandang kaum muslimin salah padahal kebanyakan di antara mereka sendiri terbukti fasik (suka mencaci kaum muslimin). Ciri-ciri mereka masih muda dan ilmunya sedikit. Hadits di atas menjelaskan tentang buruknya kaum khawarij (bukan golongan lain!). Mereka menghadirkan mimpi buruk dengan membunuh Khalifah Ali serta membuat perpecahan dan permusuhan. Sampai sekarang, mereka tetap melakukan aksi-aksi bodohnya seperti terorisme dan lainnya. Maka jangan heran jika kebanyakan teroris hampir pasti berawal dari mereka dan du’at dari Nejd gemar sekali berseru dan saling tuduh khawarij di antara mereka sendiri. Dengan demikian, saran buat pemerintah yang ingin meminimalisir bahaya terorisme adalah mengajak kembali (taubat) gerombolan anjing-anjing neraka itu kepada jama’ah kaum muslimin. Jika mereka tidak mau (besar kemungkinan karena egoism dan kesombongannya) maka usir saja mereka dari Nusantara dan kembalikan mereka ke Nejd. Sesungguhnya negeri Arab akan segera kita perangi !

Arab Saudi akan diperangi dan Jazirah Arab akan kembali ke tangan Kaum Muslimin !!!

“Tidaklah dunia akan lenyap sehingga negeri Arab dikuasai oleh seorang laki-laki dari ahli baitku (keluarga rumahku) yang namanya sama dengan namaku.’’ [Musnad Ahmad 5: 199 hadits nomor 3573 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dia berkata,”Isnadnya shahih.”Dan Tirmidzi 6:485, dan dia berkata, "Ini adalah hadist hasan shahih.” Dan Sunan Abu Daud 11: 371] 

Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan. (HR Muslim 5161)

Kita mungkin merasa aneh, mengapa Arab akan diperangi lagi oleh kaum Muslimin. Bukankah Islam berasal dari Arab? Bukankah penghuni jazirah Arab sekarang ini adalah kaum muslimin? Sebetulnya tidak aneh karena Rasulullah mengabarkan bahwa sumber fitnah dimulai dari Arab, dengan da’i-da’i yang juga bercirikan orang Arab. Bahkan yang memeranginya kemungkinan besar adalah bangsa timur dibawah pimpinan Imam Mahdi. (Mungkinkah militer Indonesia-Malaysia / Ahlus Sunnah yang mencintai Ahlul Bayt ???). Boleh jadi yang diperangi Al Mahdi dan pengikutnya berturut-turut adalah: Wahabi (Arab), Syiah (Persia-tapi tidak ada kata diperangi dalam hadits), Kristen (Rum) dan Yahudi (pengikut Dajjal). Hadits tersebut tidak ditujukan untuk penaklukan kita yang pertama, karena kaum muslimin tidak pernah mencapai kota Roma (hanya sampai Konstantinopel) dan belum memerangi dajjal.

Lihat penjelasan hadits berikut:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Qubai. Ia menuturkan : “(Pada suatu ketika) kami bersama Abdullah Ibnu Amr Ibnu Al-Ash. Dia ditanya tentang mana yang akan terkalahkan lebih dahulu, antara dua negeri. Konstantinopel atau Rumiyyah. Kemudian ia meminta petinya yang sudah agak lusuh. Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab.” Abu Qubail melanjutkan kisahnya : Lalu Abdullah menceritakan : “Suatu ketika, kami sedang menulis di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba beliau ditanya : “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Rumiyyah?” Beliau menjawab : “Kota Heraclius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu”. Maksudnya adalah Konstantinopel.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah, Abu Amer Ad-Dani, Al-Hakim, dan Abdul Ghani Al-Maqdisi. Abdul Ghani menilai bahwa hadits ini hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadits shahih. Penilaian Al-Hakim itu juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.

Kata Rumiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibu kota Italia sekarang ini, sedangkan Konstantinopel adalah ibukota Byzantium (Romawi Timur). Sebagaimana kita ketahui, bahwa kemenangan pertama ada di tangan Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani. Hal itu terjadi lebih dari delapan ratus tahun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyabdakan hadits di atas. Semoga kemenangan kedua segera berada di tangan Muhammad bin ‘Abdullah Al Mahdi.

Kaum Muslimin harus bersatu dan berbaiat kepada Al Mahdi, baik sukarela maupun terpaksa. Apakah Al Mahdi berasal dari golongannya ataukah bukan. Apakah ia berwarga negara Arab ataukah bukan? Sebab sejatinya Islam bukanlah Arab. Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia. Kaum Muslimin tidak mengikuti bangsa Arab. Kaum Muslimin mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Selain alasan dari hadits-hadits shahih di atas, sebetulnya kaum muslimin juga punya alasan kuat untuk memerangi Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Mereka telah merusak perbendaharaan kaum muslimin (situs-situs Islam bersejarah) yang telah bertahun-tahun dijaga Salafus Sholih, kedzaliman dan pembunuhan kaum muslimin tanpa alasan (seperti menghukum/membunuh TKW yang membela diri/terpaksa/tidak sengaja membunuh ketika hendak diperkosa – hukum di KSA tidak mengenal perkosaan kecuali zina, jadi korban perkosaan justru dituduh pezina – sangat tidak adil dan tidak islami, penyiksaan TKI Muslim, penembakan demonstran muslim, dsb), dugaan keterlibatan KSA dalam memperkeruh krisis di Iraq, dugaan perilaku bejat para petinggi di sana dengan gaya hidup hedonisnya tanpa empati & mau peduli pada saudaranya di Palestina, serta alasan terkuat dugaan keterlibatan mereka dalam makar jahat Zionisme Internasional dari awal berdirinya Kerajaan sampai sekarang.

Boleh jadi, rakyat Saudi sendiri sekarang amat tertekan. Hampir mirip kondisinya sama rakyat di negeri manapun dibawah pemerintahan otoriter. Namun, semua itu tertutup rapat dan rahasia. Nah, bom sosial ini cepat atau lambat akan meledak. Apalagi jika menilik tanda-tanda yang ada sekarang. Tanda-tanda itu sangat jelas dengan gejala sosial perselisihan hebat dan gejala alam dengan banyaknya gempa. Maka tinggal menunggu waktu saja, mungkin sekitar beberapa tahun ke depan Al Mahdi akan diutus.

Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa.  Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (H.R. Ahmad)

Jika kita melihat realitas dengan jeli serta mau mencari informasi (dengan pikiran terbuka tentunya) maka terlihatlah bukti-bukti konspirasi itu dengan sangat nyata. Mereka membuat makar, sedangkan Allah juga sedang mempersiapkan makar-Nya. Maka, apakah konspirasi Yahudi dan orang-orang kafir itu dapat mengalahkan makar Allah? Jawabannya Tidak! Sekali-kali tidak! Mereka akan ditaklukkan, dalam waktu yang dekat !!! Oleh sebab itu, bersiap-siaplah wahai kaum muslimin, masa-masa kemenangan kita akan segera datang !!!

Bagaimana Solusinya?

Ketahuilah bahwasanya bakal terjadi fitnah-fitnah (malapetaka)!” Kami bertanya: “Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berpegang teguh dengan Kitabullah, sebab di dalamnya disebutkan sejarah orang-orang sebelum kalian, dan khabar tentang yang akan datang setelah kalian, dan di dalamnya juga terdapat hukum terhadap perselisihan di antara kalian. Ia adalah pemisah antara hak dan bathil, dan sekali-kali bukanlah senda gurau. Barangsiapa meninggalkannya karena keangkuhan, niscaya Allah akan membinasakannya. Dan barangsiapa mencari petunjuk dari selainnya, niscaya Allah akan menyesatkannya. Ia adalah tali Allah yang kokoh. Dan ia adalah bacaan yang penuh hikmah. Dan ia adalah jalan Allah yang lurus.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Dari hadits di atas dapat diambil beberapa pembelajaran: Berpegang teguh dengan Al Qur’an, belajar dari sejarah masa lalu (khususnya fitnah & perselisihan yang menimpa ahli kitab), Al Qur’an adalah Al Furqan (pembeda), jangan sombong dengan meninggalkan Al Qur’an, & Allah akan memberikan petunjuk kepada kita melalui Al Qur’an. Sekali lagi, Allah akan memberikan petunjuk di zaman fitnah ini melalui Al Qur’an. Maka jadilah Ahlul Qur’an !!! Tidak hanya sekedar membaca tapi benar-benar memahami dan merenungi isi kandungannya sampai ke hati.

Kemudian, kesimpulan umum dari tulisan di atas adalah: “Berpegang teguhlah kepada Al Qur’an dan Sunnah !!! Berserah dirilah hanya kepada Allah dan mintalah petunjuk hanya kepada-Nya saja melalui Al Qur’an! Hanya Dia yang mampu memberikan petunjuk di zaman fitnah ini. Hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang-orang Arab dari Nejd (Hijaz) yang da’i-da’inya bergaul erat dengan penguasa, tidak berakal (memandang rendah akal), terlihat seperti punya pegangan padahal sama sekali tidak demikian serta bersifat tamak sehingga tidak tampak kebijaksanaannya !!! Bersabarlah untuk menunggu Al Mahdi beserta pasukan panji-panji hitamnya dari arah timur yang menegakkan khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah mengembalikan kejayaan kaum muslimin dan meluruskan fitnah-fitnah.”

Aku adalah manusia biasa yang mungkin benar dan mungkin pula salah. Oleh karena itu, hendaklah kamu memperhatikan dan meneliti pendapatku itu. Jika sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka ambillah, dan jika bertentangan dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

Wallahu a’lam

n.b.: Hendaknya kaum muslimin bersikap bijaksana, tidak asal tuduh-menuduh tanpa bukti yang nyata. Boleh jadi yang dituduh lebih baik daripada yang menuduh. Bahkan, siapa tahu suatu kaum sudah bertaubat sehingga tidak layak diberikan tuduhan keji. Kemudian, mengapa dalam tulisan ini banyak menyebut golongan Wahabi / Salafy / Salafiyyun? Karena untuk membahas hadits-hadits di atas, firasat saya mengatakan bahwa orang-orang Salafi Wahabi akan cepat tersinggung dan marah. Soalnya KSA adalah negerinya Wahabi/Salafy.

Mari kita menjadikan ciri-ciri di atas sebagai introspeksi diri kita masing-masing. Maksud dari tulisan di atas adalah mengabarkan hadits-hadits terkait akhir zaman, khususnya fitnah dari Arab. Jika saya salah memahami hadits-hadits di atas, silakan beri komentar penjelasan dan maksud hadits-hadits tersebut. Namun jika Anda menafsirkan bahwa hadits-hadits di atas sengaja ditujukan dan sangat mirip dengan ciri-ciri pada kelompok Anda, kemudian Anda menuduh saya berdusta atau memfitnah maka mengapa Anda sendiri tidak segera meninggalkan firqah Anda? Apakah anda tidak berfikir? Anda sendiri yang menafsirkan bahwa hadits-hadits itu mengarah ke firqah anda. Sementara saya sendiri tidak berani mengarahkannya secara frontal karena siapa tahu mereka sudah bertaubat.

Sesungguhnya saya hanyalah pemberi peringatan (bahaya fitnah Arab) dan pembawa kabar gembira (akan datangnya Al Mahdi). Maka katakan kebenaran meskipun pahit, janganlah takut akan manusia, takutlah pada Allah !!!

Pasted from <http://www.facebook.com/groups/mahodum/doc/287708931263718/>

Al-Albani dan Kapasitas Keilmuannya

TULISAN: AL ALLAMAH AL MUHADDITS AL KABIR. ABDULLAH BIN ASSHIDDIQ AL HASANY AL GHUMARI.

Alih bahasa: Rivqi “al muqollid” faletehan.

BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM

Ini adalah petikan dari Arrasail al ghomariyah dalam penyanggahan atas Nashir al albani.

Al muhaddits sayyidy Abdullah bin Ashiddiq al ghomari ra berkata:

…..dia adalah Nashiruddin, al albani adalah asalnya(Albania).

Pada awalnya dia ber I’itikaf di dalam kamar perpustakaan “Al Dzahiriyah” Damaskus disana dia berkutat membaca buku dan betah untuk membaca.

Setelah itu dia menyangka bahwa dirinya telah menjadi profesional dalam urusan agama. Dia memberanikan diri untuk berfatwa dan mentashhieh hadits atau mendha’ifkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Juga dia berani menyerang ulama yang mu’tabar(yang berkompeten di bidangnya)padahal dia mandakwa bahwa “hafalan”hadits telah terputus atau punah.

Maka akibatnya bisa anda saksikan terkadang dia menganggap buruk pendapat para ulama juga mendha’ifkan hadits yang baik-baik dan menganggapnya lemah,sampai sampai shahih Bukhari dan shahih Muslim pun tidak selamat dari koreksinya.

Berdasarkan hal tersebut(dia tdk berguru) maka isnadnya maqthu’(silsilah keilmuannya terputus)dan kembali kepada kitab kitabnya yang ia teliti,kembali kepada juz juz yang ia baca dengan tanpa Talaqqi(belajar kepada guru).

Dia pernah mendakwakan dirinya sebagai kholifah(penerus) Assyaikh Badruddin Al Hasani(salah satu guru Al Ghomari,pen)yang beliau adalah seorang ulama yang tidak pernah terlepas dari biji tasbih dari tangannya meskipun sedang mengajar,dan anehnya ia menganggap bid’ah kepada orang yang mengenakannya(biji tasbih).

Lalu dia (al Albani) mendakwakan dirinya telah mencapai derajat “penghafal hadits” dan mampu mentashhieh hadits sehingga pengikut pengikutnya menyangka bahwa dia adalah “MUHADDITS” dunia seluruhnya. Apakah dengan sekedar ijazah dari sangkaan seseorang lantas dia boleh berbicara /koreksi atas hadits Rasulillah saw..??

Kemudian berdasarkan PERSAKSIAN DARI PARA ULAMA DI ZAMANNYA dari para ulama Dimasyq menyatakan bahwa dia tidak hafal matan- matan hadits apalagi sanad -sanadnya. Bahkan KEILMUANNYA tidak mencapai untuk menilai sebuah matan hadits kemudian meneliti rijal(para perowi)nya di kitab kitab “Al Jarh watta’diil”,sehingga berangkat dari itu semua dia menghukumi sebuah hadits dengan menshahihkan dan mendha’ifkan nya dalam keadaan “TIDAK TAHU” bahwa sebuah hadits mempunyai jalan riwayat,syawahid (hadits lain sebagai saksi penopang)dan mutaba’at(penelusuran susulan). Dia juga lupa bahwa seorang “AL HAFIDZ”(penghafal 100 ribuan hadits sanad dan matannya) mempunyai “otoritas” menshahihkan dan mendha’ifkan sebuah hadits sebagaimana yang di katakan oleh Al Hafidz Assuyuthy dalam “AL FIYAH” nya(kitab nadzom ilmu hadits diroyah 1000 bait)

كَما قَال السُيوطِي فِي ألفيته:

وخذه حَيث حَافظ عليه نص ** أو من مصنَّف بِجمعه يخص

artinya:

Maka ambillah hadits ketika telah di” nash” oleh seoranh Al Hafidz………atau dari kitab susunannya yang khushus untuk kodifikasi hadits tersebut.

Begitulah hukum sebenarnya dimana bahwa ilmu agama tidak diambil dari “MUTHOLA”AH” atas kitab-kitab ansich dengan mengesampingkan “TALAQQI”(mengaji)kepada AHL AL MA’RIFAH WA AL TSIQOH(ahli pengetahuan khushush dan dapat dipercaya)dikarenakan terkadang dalam beberapa kitab terjadi “penyusupan” dan “PENDUSTAAN” atas nama agama atau terjadi pemahaman yang berbeda dengan pengertian para “salaf” maupun “kholaf” sebagaimana mereka(para ulama) saling memberi dan menerima ilmu agama dari satu generasi ke generasi lainnya maka pemahaman yang berbeda dengan ulama salaf maupun kholaf itu dapat berakibat kepada pelaksanaan “IBADAH FASIDAH”(ibadah yang rusak)atau dapat menjerumuskan kedalam “TASYBIHILLAH BIKHOLQIHI”(penyerupaan Allah dengan Makhluq Nya)atau implikasi negative lainnya.

Cara seperti itu adalah bukan cara “belajar” dan cara menuntut ilmu yang dilakukan ulama salaf dan kholaf sebagaimana yang telah dikatakan oleh AL HAFIDZ ABU BAKAR AL KHATHIB AL BAGHDADY:…..”ILMU TIDAK DAPAT DIAMBIL KECUALI DARI MULUT PARA ULAMA”.

Maka jelaslah tidak diperbolehkan mempelajari ilmu agama kecuali dari orang yang “arif” dan tsiqoh yang mengambil ilmu dari tsiqoh………..dst sampai ke para shahabat ra. Sehingga orang yang mengambil Al Qur’an dari Mushhaf dinamakan “MUSHHAFY” tidak dapat disebut “QARI’’ begitulah seperti yang dikatakan Al Hafidz Khathib Al Baghdady dalam kitabnya yang berjudul “alfaqih wal mutafaqqih” bersumber dari sebagian ulama salaf.

Cukuplah bagi kita sebagai anjuran untuk “talaqqi”(menerima ilmu dari guru)sebuah hadits Nabi saw:

:”مَن يُرد الله بهِ خَيراً يُفقّهه فِي الدِين, وفِي رِوَاية زيادة: “إنَما العِلم بالتعلُمِ, والفِقه بالتفقّه

Artinya: barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah swt maka ia diberi pemahaman dalam agama dalam sebuah riwayat ada tambahan…”bahwa ilmu hanya(didapat)dari belajar….(HR.AL BUKHORY,MUSLIM,AHMAD DI MUSNADNYA DAN LAIN LAIN)

Terdapat juga di al mu’jam al kabir imam thabrany 19/395 Al Hafidz di al fath mengatakan” isnadnya baik” 131/1

ورَوى مُسلم فِي صحيحهِ عَن ابن سِيرين أنهُ قَال: ” إنّ هَذا العِلم دِين فانظرُواعمّن تأخذُون دينكُم”.

Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Ibnu Sirin ia berkata:”bahwa ilmu ini adalah Agama maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian”

أخرجهُ مُسلم فِي صَحيحهِ: المُقدمة: بَاب بَيان أن الإسنَاد مِن الدِين, وأنَ الرِوَاية لا تكُون إلاّ عَن الثقات, وان جرح الرواة بِما هُو فيهم جَائِز بَل وَاجِب وأنهُ ليسَ مِن الغِيبة المُحرّمة بَل مِن الذبّ عَن الشَريعة المُكرّمة

Hadits tadi diriwayatkan imam Muslim di Muqaddimah shahihnya bab: menerangkan bahwa isnad itu bagian agama dan bahwa meriwayatkan hadits itu tidak boleh terjadi kecuali dari orang yang tsiqot(dipercaya)dan bahwa mencela “periwayatan” itu diperbolehkan asal sesuai dengan kenyataan bahkan wajib bukan termasuk “GHIBAH” yang diharamkan namun dengan tujuan “mempertahankan” syari’at yang dimuliakan.

Imam Abu Hayyan Al Andalusy berkata:

وقَال أبو حَيان الأندلسِي:

يظنّ الغُمْرُ أن الكُتْبَ تَهدي ** أخَا جَهلٍ لإدْراكِ العُلومِ

ومَا يَدري الجهولُ بأنّ فِيها ** غَوامِض حَيّرت عَقلَ الفهيمِ

إذا رُمت العُلومَ بغيرِ شيخٍ ** ضللتَ عَن الصِراط المُستقِيم

وتلتَبِسُ الأمُورُ عليكَ حَتى ** تصيرَ أضلَّ مِن تُوما الحَكيم

Artinya:

khalayak ramai menyangka bahwa kitab kitab itu dapat menuntun orang bodoh untuk menggapai ilmu……

padahal orang yang amat bodoh tidak tahu bahwa di dalam kitab kitab itu banyak masalah rumit yang membingungkan akal orang cerdas.

Apabila engkau mencari ilmu tanpa guru…..maka engkau dapat tersesat dari jalan yang lurus.

Maka segala hal yang berkaitan akan menjadi samar buatmu hingga engkau menjadi lebih sesat disbanding si Thomas (Ahli filsafat).

(hasyiyah Al Thalib ibnu Hamdun ala lamiyat al ‘af’al hal 44)

Assyaikh Habiburrahaman al A’dzhami Muhaddits daratan India berkata dalam Muqaddimah bantahan nya terhadap Al Albany dengan judul “mablagh ilm al Albany(kapasitas keilmuan Al Albany)dengan teks sebagai berikut….

“Syekh Nashiruddin Al Albany adalah orang yang sangat menyukai untuk menyalahkan orang orang yang sangat brilian dari kalangan pembesar para ulama dan dia tidak memperdulikan siapapun orangnya.Maka dapat anda lihat terkadang dia melemahkan riwayat Imam Bukhary dan Imam Muslim dan ulama lainnya yang dibawah level ke dua imam tadi………dan hal itu terjadi di banyak tempat sehingga sebagian orang yang BODOH dan yang terbatas pemikirannya dari kalangan ulama menyangka bahwa Al Albani adalah orang yang profesional pada abad ini dan kemahirannya jarang ditemukan semacam dia di era sekarang. Semacam inilah hal yang dibanggakan olehnya di berbagai tempat dengan mengeluarkan kotorannya sehingga para pembaca melirikkan pandangan mereka dan terkadang dia mengatakan :”aku mendapatkan tahqiq(pernyataan) semacam ini dan tidak akan kau temukan di lain tempat(maksudnya di kitab lain-yang menurut dia- tidak terdapat pernyataan semacam itu).

terkadang dia mendakwa bahwa dirinya “di istimewakan” oleh Allah di abad ini untuk meneliti atas hadits hadits tambahan dalam kondisi perbedaan riwayatnya yang tersebar di kitab kitab yang berserakan sehingga ia telah mencapai hal yang belum pernah diraih para Muhaqqiqqiin yang telah lampau maupun yang akan dating.

Namun orang yang “mengenal” al Albany dan orang yang meneliti biografinya ia pasti mengetahui bahwa dia tidak mendapatkan ilmu dari “MULUT PARA ULAMA” dan dia belum pernah duduk bersimpuh di depan pengajian para ulama ,padahal ilmu itu harus didapat dengan cara ta’allum(mengaji).

Ada berita sampai kepada saya bahwa hafalan kitabnya tidak melebihi “mukhtashor al qodury” dan profesi keahlian sebenarnya adalah “mereparasi jam” yang dirinya mengakui hal ini dan membanggakannya.padahal cara mendapatkan ilmu dengan ta’allum tersebut adalah hal yang telah lazim dikenal dikalangan pelajar hadits di seluruh madrasah kami(india).Begitulah apa yang telah dinyatakan oleh Assyaikh Muhaddits diyar al Hindiyah الألبَانِي أخطاؤه وشُذوذه 1/9

Inilah kapasitas keilmuan al albany,maka bila kau membaca kitab kitabnya akan kau temukan tanda yang jelas karena dia menyebut apa yang ia katakan shahieh akan berlawanan dengan apa yang dikatakan dengan dha’ief hingga kau temukan dia merubah hadits hadits Nabi saw dengan sesuatu yang tidak boleh diakukan oleh Ahlul ilmi bil hadits. Pada akhirnya dia mendha’ifkan yang shahieh dan menshahiehkan yang dhai’ef. Ini adalah polah tingkah orang yang belum pernah menghirup aroma “ILMU” dan cara orang yang belum pernah mengenal para “GURU” dan belum pernah “SAMA’ “dari teks teks lafadz mereka. Saya tidak melihat dia kecuali orang yang membaca kitab dan menganggap bahwa mencari ilmu itu tidak butuh terhadap bimbingan dan talaqqi para guru. Padahal kita sungguh mengetahui bahwa seorang penghafal hadits tidak hanya mencukupkan diri dengan muthala’ah tanpa berkeliling mencari ilmu dari para guru dari biografi mereka dan mereka sama’(mendengar riwayat hadits) sebagaimana orang orang sebelum mereka ber sama’ kepada para guru ……begitulah adat kebiasaan “AHLI -ISNAD”.

Termasuk diantara “cacat” al Albany adalah dia berani mengkoreksi Imam imam besar,cukuplah sebagai celaan bahwa dia mengkoreksi dan berani terhadap hadits Shahih imam bukhory dan shahieh Imam Muslim,oh….seandainya saja dia mendhaifkan hadits hadts tadi berdasarkan ilmu dan ma’rifah…..namun sayang dia mendhaifkannya karena “KEBODOHAN” dan keculasan.

Siapapun orang yang mau melihat kitab kitabnya dengan pemahaman dan pengetahuan yang baik dan menjauhkan diri dari “ta’ashshub”(fanatisme)dan buang jauh jauh kebodohan yang berbahaya maka akan menjadi jelas bagi dia bahwa “AL ALBANY” adalah orang yang sangat lemah dalam ilmu hadits baik matannya maupun rijalnya.

Diantara cacat Al Albany yang fatal adalah dia menuduh orang yang mengingkarinya dengan si “pembuat bid’ah” dan dia sendiri lah yang sunny dengan pengikutnya sehingga berhak masuk sorga dan penentangnya adalah ahlulbid’ah yg akan masuk neraka. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mencapai “kemasyhuran” dia ingin menjadi yang terhebat di zamannya dan mengungguli pendahulu pendahulunya.

Kesimpulannya Al Albany dan fatwa fatwa dan istinbathnya adalah merupakan “BENCANA” untuk kaum muslimin. Bisa anda lihat bagaimana dia membid’ahkan berdzikir dengan biji tasbih,membaca al Qur’an untuk mayyit….juga di kitab kitabnya banyak kesesatan yang nyata apalgi di syarah Al Thohawy. Maka sesuai dengan pernyataan di atas apa yang dikatakan oleh Assyaikh Muhammad Yasin Al fadany yang masyhur bahwa Al Albany itu “Dhaallun mudhillun”(sesat dan menyesatkan).

Juga sesuai dengan pernyatan Syaikh Al Muhaddits Habiburrahman: ketika aku membaca karangan al albani dalam pembahasan seperti ini dan yg lainnya ,aku menjadi teringat hadits Nabi saw:

إن ممَا أدرَك النَاس مِن كلام النُبوة الأولى إذا لَم تستحِ فاصْنع مَا شِئت”.

“sungguh apa yang dapat di tangkap oleh manusia dari perkataan Nubuwwah yang pertama adalah “kalau kau tidak tahu malu maka berbuatlah sesukamu…”

Sekarang kami katakan kepada para pengikut Al Albani dan yang terbujuk rayu ucapan-ucapannya dan kepada orang orang yang tertipu dengan slogan slogannya …”kembalilah kalian kedalam ajaran yang baik yang sudah ada, ikutilah jalan para Abror…..ikutilah jalan yang lurus campakkan jalan orang yang menyimpang dari “Annahj al mustaqiim”….

Takutlah kalian untuk memberanikan diri atas kalam Rasulillah saw dengan tanpa didasari ilmu,jangan kalian terperdaya oleh orang yang sesat meskipun dia mempunyai puluhan karangan dan buku.

Oh…..betapa buruknya keberanian mengkoreksi dan berkecimpung tanpa ilmu atas hadits Nabi saw.

Ya Allah kami memohon kepada Mu keselamatan dan penjagaan …..

Allah swt berfirman:

قَال الله تَعالى: (وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمُ إنَّ السَّمْعَ والبَصَرَ والفُؤَادَ كُلُ أوْلئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً) 36 [ سُورة الإسراء].”

(janganlah kau ikuti apa yang kamu tidak mengetahui karena pendengaran,pengelihatan dan hati itu semuanya akan dipertanggung jawabkan…)……

sekian.

@Al Muhaddits Al Kabir Abdullah al Ghumari Al Hasany adalah Al Allamah di bidang hadits dan ilmu lain. Pada awalnya Hafalan hadits beliau mencapai 50.000 hadits baik sanad maupun matannya,namun setelah beliau meninggal banyak ulama yang menjuluki Al Hafidz..diantara murid beliau adalah Mufty Addiyar al mishriyah Al Allamah al Imam Ali Jum’ah.

Pasted from <http://www.facebook.com/groups/298602503484829/doc/302909169720829/>

Mengungkap Fakta Nashiruddin Al-Albani

Akhir-akhir ini banyak sekali kitab-kitab takhrij hadits keluaran Timur Tengah dan Syria yang mengambil atau membuat referensi dalam menilai hadits dari kitab-kitab karangan Syaikh Nashiruddin al-Albani. Bahkan di Indonesia sendiri, terjemah dari kitab-kitab karangannya pun sudah mulai menjamur di terbitkan oleh penerbit-penerbit salafi secara khusus dan sudah merambah masuk ke tengah-tengah masyarakat kita.

Buku-buku yang bemuatan tentang pembelaan, pujian dan pengakuan kepintaran al-Albani bahwa dia seorang ahli hadits yang patut di buat panutan oleh segenap muslimin, juga banyak di terbitkan dalam bentuk bahasa Indonesia oleh mereka yang sering mandakwahkan dirinya pengikut salafiyyah.

Syaikh Nashiruddin al-Albani adalah salah seorang ulama Syam (Yordania) pemerhati ilmu hadits masa kini. Banyak kalangan yang menilai bahwa dia termasuk salah satu ulama yang pintar di dalam bidang ilmu hadits secara otodidak. Muncul juga satu klaim dari sebagian kalangan yang kelewat batas fanatik, bahwa dia bukan hanya bertitel al-Muhaddits tapi al-Hafizh yang dapat disejajarkan dengan al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafidz al-‘Iraqi, al-Hafizh Ibnul Jauzi dan lain-lain.

Sebagai bukti kepintarannya dalam bidang hadits, dia banyak menulis kitab-kitab hadits dan takhrij hadits[1], di antaranya adalah: Silsilah Ahadits adh-Dhaifah, Irwaul Ghalil fi Takhrij al-Ahadits al-Manar as-Sabil, Shahih al-Jami ash-Shaghir wa Ziyadatuh, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, Shahih Ibni Majah, Silsilah Ahadits ash-Shahihah, Kitab Shifat Shalat an-Nabi, Tahdzir as-Sajid, Kitab az-Zifaf, Shahih Sunan Abi Dawud dan lain-lain yang berkaitan dengan hadits-hadits Nabi.

Namun, selain dia dianggap banyak salah dan tanaqudh (keterangan satu dengan yang lain saling kontradiktif) dalam kitab-kitab karangannya yang menurut Sayyid Hasan Assegaf[2] mencapai 7000 kesalahan atau tanaqudh, dia juga dikenal sebagai pendukung berat aliran Wahhabiyyah yang dianut oleh sebagian masyarakat Arab Saudi dan juga terkenal dengan pernyataannya yang melarang berdzikir dengan memakai tasbih dan anti madzhab atau taqlid[3].

Sayyid Hasan Assegaf, penulis kitab Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihah, menilai tidak boleh berpedoman pada kitab-kitab hadits tulisan al-Albani lantaran kesalahannya yang begitu banyak dalam menilai hadits.

Syaikh al-Albani juga dikenal mudah menghina ulama dan tidak segan-segan mencaci maki ulama yang mengkritiknya dalam hal  memberikan penilaian hadits (tashhih dan tadh’if), seperti yang dialami Sayyid Hasan Assegaf ketika menulis kitab Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihah juz pertama, satu kitab yang mengkritisi kesalahan-kesalahan al-Albani dalam menilai hadits. Saat kitab tersebut dibaca oleh al-Albani dan kemudian munculah komentar dari al-Albani dengan kata-kata kotor yang sangat tidak layak diucapkan oleh ulama yang ‘dianggap’ besar. Bahkan ucapan tersebut terekam dalam bentuk kaset dan didengar secara langsung oleh Sayyid Hasan Assegaf. Padahal menurut Syaikh Abdurrahman Ba-Alawi, penulis kitab Bughyah al-Mustarsyidin di bab tazir, di katakan bahwa seseorang yang berkata kotor terhadap ahlu bait Rasulallah, maka orang tersebut berhak di tazir dengan keras.[4]

Di antara ulama yang mendapat penghinaan al-Albani adalah:

  • Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi
  • Dalam Dhaifah-nya (3/479) dengan tanpa adab dia mengatakan: “Heran terhadap as-Suyuthi, kenapa dia tidak malu menulis hadits ini dalam al-Jami ash-Shaghir.” Dalam Dhaifah-nya (3/187) dia juga mengatakan: “Bersama dengan ini, as-Suyuthi dengan berani-beraninya atau karena lupa menulis hadits ini dalam al-Jami al-Shaghir” Hal sama juga dalam (3/360), (3/297) dan (4/182).
  • Al-Hafizh Ibnul Jauzi, al-Hafizh Ibnu Hajar dan as-Subki
  • Dalam ash-Shahihah-nya (1/193) al-Albani mengatakan: “Ibnu al-Jauzi telah melakukan perbuatan buruk dengan memasukkan hadits ini dalam al-Maudhuat-nya.”
  • Al-Albani dalam Dhaifah-nya (4/19) mengatakan: “Al-Hafizh Ibnu Hajar telah bingung dan lupa.”
  • Al-Albani dalam Dhaifah-nya (2/285) menuduh as-Subki sebagai ulama yang fanatik  madzhab.
  • Al-Hakim, al-Mundziri, Ibnu Hibban dan adz-Dzahabi
  • Dalam Silsilah adh-Dhaifah (3/416) al-Albani mengatakan: “Al-Hakim berkata: ‘Sanadnya shahih, sama dengan penilaian adz-Dzahabi dan disetujui al-Mundziri dalam at-Targhib 3/166).’” Kemudian al-Albani mengatakan: “Semua itu adalah tidak tahqiq dan bentuk kepasrahan dalam taqlid. Bagaimana mungkin seorang ahli tahqiq berani men-shahih-kan sanad ini!.” Sayyid Hasan as-Saqqaf berkomentar: “Ucapan seorang yang tak beradab! Padahal ratusan kali dia sendiri yang melakukannya.”
  • Dalam Dhaifah-nya (3/402) al-Albani menganggap Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah terlalu mudah menganggap shahih dan menilai tsiqah perawi yang majhul (tidak diketahui kualitasnya).
  • Dalam Dhaifah-nya (3/458) al-Albani mengatakan: “Al-Hakim telah melakukan kesalahan fatal.”

Al-Albani ahli hadits yang bingung

  1. Dalam Dhaif al-Jami wa Ziyadatuh (3/243 nomer hadits 3372) dari Jabir (marfu), al-Albani menilai maudhu hadits “Salam sebelum Berbicara” akan tetapi anehnya dalam Shahih at-Tirmidzi (2/346 nomer hadits: 2170) dia mengatakan hadits hasan.
  2. Dalam Takhrij al-Misykah (2/918 no. 3048) dia mengatakan bahwa “Hadits Pembunuh Tidak Dapat Mewaris” sanadnya adalah dhaif sekali dan Imam Ahmad menilai maudhu. Tapi dalam Shahih at-Tirmidzi (2/215 no. 1713) dia mengatakan ‘shahih’.
  3. Dalam Dhaif al-Jami wa Ziyadatuh (4/179 no. 4363) hadits tentang ‘Rasulallah memberangkatkan bala tentara perang awal hari’ dia mengatakan ‘dha‘if sekali’ tetapi dalam Shahih at-Tirmidzi (2/4 no. 968) dia mengatakan ‘shahih’.
  4. Al-Albani dalam Dhaif al-Jami wa Ziyadatuh (5/47 no. 4842) menilai ‘maudhu‘’ hadits tentang Juraij ar-Rahib yang tidak menjawab panggilan ibunya, namun dalam Silsilah adh-Dhaifah (4/103) dia menilai ‘dha‘if’. Betapa jauh antara dha‘if dengan maudhu‘!

Menilai tidak ada tapi ternyata ada

Dalam kitab Takhrij Misykat al-Mashabih pada hadits “Ikutilah golongan besar, karena sesungguhnya barangsiapa yang menyendiri maka ia akan menyendiri dalam neraka” (1/62) al-Albani mengatakan: “Aku tidak menemukan hadits tersebut dalam kitab-kitab hadits terkenal, bahkan kitab-kitab fawaid maupun ajza.” Padahal dalam al-Mustadrak-nya al-Hakim (1/115) terdapat hadits sebagaimana disebutkan. Bagaimana mungkin seorang ahli hadits ‘besar’ bisa melakukan hal semacam itu?!.

Contoh-contoh kecerobohan Al-Albani dalam jarh dan ta‘dil

  1. ‘Amr bin Ghalib al-Hamdani al-Kufi. Dalam Irwaul Ghalil (7/284) al-Albani mengatakan: “Perawi-perawinya tsiqah (terpercaya) kecuali ‘Amr bin Ghalib yang hanya dinilai tsiqah Ibnu Hibban.” Artinya, al-Albani menilai ‘Amr tersebut dha‘if. Padahal ‘Amr bin Ghalib adalah tabi‘in agung yang tsiqah yang dinilai tsiqah juga oleh an-Nasa’i dan dishahihkan oleh at-Tirmdzi.
  2. Ar-Rabi‘ bin Sahl bin ar-Rakin. Dalam Shahihah-nya (2/33) al-Albani menilai dha‘if secara sepakat, padahal Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqat (4/227) menilai tsiqah yang juga diakui sendiri oleh al-Albani dalam Irwaul Ghalil (8/20).
  3. Isma‘il bin Zakariya. Dalam Shahihah-nya (3/267) al-Albani mengatakan: “Sanadnya hasan dan perawi-perawinya tsiqah kecuali Isma‘il. Dia shaduq (terpercaya) tapi kadang salah, karena itu hadits tersebut hasan.” Sementara dalam Dhaifah-nya (3/481) dia mengatakan: “Isma‘il bin Zakariya tsiqah dan bisa dibuat hujjah.” Dalam Shahihah-nya dia mengatakan: “Sanadnya shahih.”
  4. Dalam Shahihah-nya (4/269) al-Albani mengatakan: “Perawi sanadnya tsiqah-tsiqah kecuali istrinya Ibnu ‘Umar, dan aku tidak mengetahuinya.” Padahal istri Ibnu ‘Umar tersebut adalah Shafiyah binti Abi ‘Ubaid bin Mas‘ud, termasuk perawinya al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan an-Nasa’i seperti yang ditulis biografinya dalam at-Taqrib.
  5. Dalam Shahihah-nya (4/411) al-Albani berkata: “Abdurrahman bin Ishaq ini secara jelas adalah Abu Syaibah al-Wasithi dan dia dha‘if.” Padahal tidak begitu, dia adalah Abdurrahman bin Ishaq bin Abdillah bin al-Harits Kinanah al-Amiri dan dia shaduq serta termasuk perawinya imam Muslim.”

Dr. Muhammad Said Ramadlan al-Buthi menceritakan bahwa ada satu kitab yang ditulis untuk menentang dirinya dengan tulisan jelas bahwa pengarangnya adalah Muhammad ‘Id Abbasi. Padahal kitab tersebut sebenarnya tidak ditulis dan dikarang olehnya akan tetapi ditulis oleh Nashiruddin al-Albani, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Khairuddin Wa-nili. Sedangkan Muhammad ‘Id tidak ikut andil sama sekali kecuali menulis sebagian kecil pembahasan saja. Hal itu diakui Mahmud Mahdi sendiri kepada Haji Adnan salah seorang rekan Dr. Muhammad Said Ramadlan al-Buthi. Lalu bagaimana hukum menisbatkan satu ucapan kepada orang lain? Lalu bagaimana pula syariat menilai orang seperti itu?[5]

Pembahasan kali ini bukan untuk menghakimi dan menghinakan ulama, seperti Syaikh Nashiruddin al-Albani, akan tetapi semata-mata sebagai bentuk nasehat agar para pemerhati hadits Rasulallah untuk tidak terjebak dalam lingkaran fanatik buta sehingga penilaiannya terhadap status hadits Rasulallah tidak di lakukan dengan gegabah dan tidak obyektik kerena mengikuti pemikiran nyleneh Syaikh Nashiruddin yang kerap kali dianggap salah tersebut. Bentuk ketidak obyektif-an mereka yang kami ketahui, mereka akan ‘mati-matian’ membela ulama panutan mereka seakan-akan ulama tersebut tidak ada cacat dan salah akan tetapi jika ada ulama ahli hadits yang di buat panutan oleh orang-orang di luar golongan mereka, seperti Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, mereka tidak segan-segan menghujat dan bernafsu membuat syuhat-syubhat yang tidak bermutu, tidak berdasar serta tidak ilmiyyah untuk menghinakannya.

Jelasnya, meski Syaikh Nashiruddin al-Albani mempunyai banyak kesalahan ijtihad baik dalam bidang hadits, fiqh atau yang lain, akan tetapi sebagai ulama, dia juga berhak mendapatkan pujian karena kegigihannya ber-khidmah terhadap hadits-hadits Rasulallah. Semoga kesalahan-kesalahannya dia diampuni oleh Allah. 

Nasehat: Sayyid Hasan bin Ali dalam Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihah juz 2 mengatakan: “Tidak boleh melakukan penilaian shahih atau dha‘if dalam ilmu hadits kecuali seseorang yang telah membaca ilmu fiqh, ilmu ushul, ilmu ‘Arabiyah dan ilmu tauhid secara mendalam supaya dalam menilai hadits dapat dilakukan dengan akal yang cerdas, pemikiran yang mendalam, terjaga pikiran dan pendapatnya serta jauh dari sikap serampangan, brutal dan  tergesa-gesa. Sehingga akan berdampak sangat fatal yaitu terjadi pengingkaran dan pelemahan pada hadits-hadits shahih hanya karena kapisitas pemahaman yang lemah, begitupun  sebaliknya.

 ===============================================

[1]  Takhrij hadits menurut Ustadz Shubhi al-Badri adalah menisbatkan kembali satu hadits ke kitab hadits sumbernya yang asli, meneliti jalan riwayat dan sanad-sanadnya serta perawinya, dan menerangkan derajat kuat dan lemahnya. Seperti at-Talkhis al-Habir fi Takhrij Ahadits ar-Rafi’i al-Kabir karya al-Hafizh Ibnu Hajar dan lain-lain. Lihat Takhrij Ahadits Alluma’ karya Abdullah Al-Ghumari hlm. 10.

[2]  Beliau adalah cucu dari Sayyid Alawi, pengarang kitab Tarsyikh al-Mustafidin dan Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah. Beliau menulis kitab Tanaqudhat al-Albani dua kali yaitu juz pertama yang beredar pertama dan kemudian disusul juz yang kedua.

[3]  Lihat pemikiran anti-madzhabnya dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah.

[4] Bughyah al-Mustarsyidin hlm. 250

[5]  Al-Lamadzhabiyyah hlm. 111.

Source

Nabi Isa a.s. Membunuh Dajjal

Turunnya nabi Isa ke bumi mempunyai misi menyelamatkan manusia dari fitnah Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama ,ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah.

Dikisahkan setelah Nabi Isa as. selesaikan menunaikan shalat, ia berkata : “Keluarlah kamu (pasukan kaum muslimin) semua bersama kami untuk menghadapi musuh Allah, yaitu dajjal.” Lalu mereka pun keluar, kemudian Ia (Isa) dilihat oleh dajjal si laknat yang baru saja mendakwa kepada manusia, bahwa ia adalah raja yang mendapat petunjuk dan pemimpin yang jenius serta bijaksana, bahkan mengaku sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi. Begitu ‘Isa dilihat oleh dajjal, dajjal pun melele seperti garam yang meleleh di di air. Kemudian dajjal melarikan diri, akan tetapi ia dihadang oleh Isa di pintu kota Lud di Palestina. Sekiranya Isa membiarkan saja hal ini maka dajjal akan hancur seperti garam dalam air, akan tetapi Isa berkata kepadanya :”Sesungguhnya aku berhak untuk menghajar kamu dengan satu pukulan.” Lalu Isa as. menombak dan membunuhnya, maka Isa as. memperlihatkan kepada semua orang darah dajjal di tombaknya. Maka tahu dan sadarlah para pengikut dajjal dari kalangan Yahudi , bahwa dajjal bukanlah Allah. Jika benar apa yang didakwakan dajjal(dajjal mengaku sebagai tuhan) tentulah dajjal tidak akan dapat dibunuh oleh Nabi ‘Isa.

Salah satu tugas besar beliau setelah membunuh dajjal adalah menyelamatkan ummat manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj (Gog dan Magog dalam versi Kristen).

1. Dikisahkan, fitnah dan kejahatan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) sangat besar dan menyeluruh , tiada seorang manusiapun yang dapat mengatasinya, jumlah mereka pun sangat banyak sehingga kaum Muslimin akan menyalakan api selama 7 tahun untuk berlindung dari penyerangan mereka, para pemanah dan perisai mereka. (seperti yang diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Nawwas)

2. Maka saat mereka telah keluar (dari diding tembaga yang mengurung mereka sejak jaman raja Zulkarnain) maka Allah SWT berkata kepada Isa ibn Maryam: ”Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba(Ya’juj dan Ma’juj)yang tidak mampu diperangi oleh siapapun, maka hendaklah kamu mengasingkan hamba-hambaKu ke Thur (Thursina) ”

3. Dan di Thur terkepunglah Nabiyullah ‘Isa beserta para sahabatnya, sehingga harga sebuah kepala sapi lebih mahal dari 100 dinar kamu hari ini.Kemudian Nabiyullah ‘Isa dan para sahabatnya ,menginginkan itu, maka mereka tidak menemukan sejengkalpun dari tanah di bumi kecuali ia dipenuhi oleh bau anyir dan busuk mereka.Kemudian Nabi Isa dan sahabatnya meminta kelapangan kepada Allah SWT maka Allah mengutus seekor burung yang akan membawa mereka kemudian menurunkan mereka sesuai dengan kehendak Allah , kemudian Allah menurunkan air hujan yang tidak meninggalkan satu rumahpun dikota atau di kampung, maka Ia membasahi bumi sehingga menjadi seperti sumur yang penuh.” (HR. Ahmad,Muslim & Tirmidzi dari An Nawwas bin Sam’am)

Catatan dalam versi Kristen “orang-orang beriman akan diselamatkan dibawa ke awan”

Dahsyatnya fitnah Ya’juj dan Ma’juj digambarkan dalam sebuah hadist Rasulullah saw. Sebagai berikut :

“Dinding Ya’juj dan Majjuj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi” (QS . Al Anbiyaa’ : 96). Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslim akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebahagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminum air sungai tersebut sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut, maka mereka berkata: “Dulu di sini pernah ada air”. Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang dari mereka: “Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit”, kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit, dan tombak tersebut kembali dengan berlumur darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah. Maka tatkala rnereka sedang asyik berbuat demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslim berkata: “Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami berani mati) untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh musuh kita ini?” maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian dia menemui bahwa mereka semua telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berhimpitan), maka laki-laki tersebut menyeru: “Wahai semua kaum Muslim bergembiralah kamu sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri sudah membinasakan musuhmu”, maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang-padang rumput kemudian padang rumput tersebut dipenuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hiban dan Hakim dari Abu Sa’id)

Menurut suatu riwayat Nabi Isa ,setelah turun dari langit akan menetap dibumi sampai wafatnya selama 40 tahun. Ia akan memimpin dengan penuh keadilan , sebagaimana yang diceritakan dalam hadist berikut :

“Demi yang diriku berada ditanganya,sesungguhnya Ibn Maryam hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil,maka ia akan menghancurkan salib,membunuh babi,menolak upeti,melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR. Bukhari,Muslim,Ahmad,Nasa’I,Ibn Majah dari Abi Hurairah)

Diceritakan dalam sebuah hadist bahwa Nabi Isa akan melaksanakan haji.

”Demi Dzat yang diriku berada ditanganya,sesungguhnya Ibn Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak”.(HR. Ahmad & Muslim dari Abi Hurairah)

Janji Allah pasti berlaku pada semua hambanya, semua yang bernyawa pasti akan mati, begitu pun Nabi Isa AS. Setelah menjadi pemimpin yang adil di akhir jaman, Allah SWT. akan mewafatkan Nabi Isa. Hanya Allah SWT saja yang tahu kapan dan dimana Nabi Isa akan diwafatkan. Setelah wafatnya Nabi Isa as. dunia kemudian akan mengalami kiamat.

Wallahu a’lam

Ya’juj wa Ma’juj

QS. Al-Kahfi: 94

“Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ?”

QS. Al-Anbiya: 96

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”

Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits

Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi SAW, berkata;
“Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini !” beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.”
(HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj dalam QS. Al-Kahfi : 94

Ya-juj dan Ma-juj menurut ahli lughah ada yang menyebut isim musytaq (memiliki akar kata dari bhs. Arab) berasal dari AJAJA AN-NAR artinya jilatan api. Atau dari AL-AJJAH (bercampur/sangat panas), al-Ajju (cepat bermusuhan), Al-Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan MAF’UL dan YAF’UL / FA’UL. Menurut Abu Hatim, Ma-juj berasal dari MAJA yaitu kekacauan. Ma-juj berasal dari Mu-juj yaitu Malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya-juj dan Ma-juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan).
Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia. Mereka berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam AS dan Hawa atau dari Adam AS saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh AS dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh AS mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts Bin Nuh. Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk, Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin.

Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina. Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H.

Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya.Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.

Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membabad semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

Siapakah Dzulkarnain ? Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir. Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.).
Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

BENARKAH TEMBOK CINA ADALAH TEMBOK Zulkarnain ?

Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman,

“Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

BEBERAPA PENELITIAN TEMBOK YA’JUJ

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.

Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di perunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam mahupun Rusia, terletak di republik Georgia.
Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.

Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.
27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.
Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, membunuh, suku-suku lain. Mereka pembuat onar, dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.

Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.
Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

Referensi:

  1. Az-Zuhaily, Tafsir Al-Munir.
  2. Dr. Thaha Ad-Dasuqy, ‘Aqidatuna Wa Shilatuha Bil Kaun Wal Insan Wal Hayat, Darul Huda, Kairo, 1995.
  3. Syekh Sya’ban ‘Abdulhadi Abu Rabah, Islamiyat, Haqaiq Fi Dzilli Tauhid Al-Ara Al-Islamiyah, Muassasah Al-’Arabiyah Al-Haditsiyah, Kairo, 1991.
Places Unknown

Dmitrii Lezine's fine art photography, travel photography, free HDR Tutorial, photography tips, camera reviews and photo editing software.

b a a s r

belajar adab-adab sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Learn English in a Fun Way

Welcome. You can click on any of the titles below and then you will see a video that will help you improve your English. (and hopefully be a little funny)

Penulis Super

Menulis segala Hal Yang Berguna Untuk Anda | Trik Menarik | Tips Terbaru | Hal Yang Paling Super Saat Ini dan Rahasia | Cara Mengetahui sifat, karakter, watak dan kepribadian seseorang

Photo Nature Blog

Nature and Outdoor Photography by Jeffrey Foltice

Love thy bike

A love of photography, cycling and exploring places on two wheels.

Bacalah!

Membuka Pikiran Anda

"ALL MANAGEMENT INSIGHT, CATATAN PERKULIAHAN"

Teori, Artikel, Resensi Buku, Motivasi, kisah sukses, dan Mozaik sekitar ilmu manajemen

grizanderson

...from the middle of nowhere

Abu Fahd Negara Tauhid

Agen Herbal & Buku Islami, Pecinta Alam, Adventure

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

Merajut Kata

Untuk-MU, ALLAH-ku.. Untuk Mereka, Orangtuaku.. Untukmu, Saudaraku..

Agus Ibnu Syofiardy

"QOYYIDUL 'ILMA BIL KITABI" (Ikatlah Ilmu dengan Tulisan)

sendaljepitblog

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Akhmad Muhaimin Azzet

belajar berbagi agar bahagia

Iwan blog world

ILMIAH - KONSTRUKTIF - INSPIRATIF

Fiaspirit's Blog

Just another WordPress.com site

Catatan SederhaNa

because life is a story

TEORI-ONLINE

References, Tutorials and Discussion

Broto Blog

Hidup adalah pilihan, tentukan pilihan itu sekarang atau pilihan yang akan menentukanmu

selembar kertasku

merubah peradaban dunia dengan pemikiran dan tulisan

almubayyin

Just another WordPress.com site

MANAJEMEN OPERASI/PRODUKSI

Blog Mata Kuliah : Program MM-UHAMKA

Sebuah Coretan

>>> Aksi Dan Reaksi Semesta <<<

~p0c0ng~

Not luxorious just simple place

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.441 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: