Jangan Memulai Peperangan sebelum Berdakwah Terlebih Dahulu!

Ada banyak riwayat yang mengatakan, bahwa Rasulullah saw. tidak akan memulai peperangan, kecuali sesudah menyeru terlebih dahulu untuk memeluk Islam. (Nashbur-Raayah 2: 278; Majma’uz-Zawa’id 5: 304; Kanzul Ummal 2: 298).

Ibnu Mandah dan Ibnu Asakir telah memberitakan dari Abdul Rahman bin A’idz r.a. katanya, “Apabila Rasulullah saw. mengutus pasukannya ke medan perang, terlebih dahulu Beliau berpesan kepada mereka, katanya, ‘Berlembutlah kepada manusia, dan jangan memulai sesuatu tindakan, sebelum kamu mengajak mereka kepada agama Allah. Sesungguhnya tiada penghuni rumah, atau penduduk kampung, yang dapat kamu membawa mereka kepadaku dalam keadaan memeluk Islam, itu adalah lebih aku sukai daripada kamu membawa kepadaku wanita-wanita mereka dan anak-anak mereka yang kamu tawan, padahal kamu telah membunuh semua lelaki-lelaki mereka.'” (Al-Ishabah 3:152; Musnad Termidzi 1: 195) Baca lebih lanjut

Dakwah Rasulullah saw. kepada Kerabat Dekat

Apakah dakwah itu harus dari keluarga sendiri terlebih dahulu?

Jawabnya iya..
Lalu, jika keluarga kita tidak mengikuti seruan dakwah untuk taat kepada Allah, apakah lantas kita berhenti berdakwah atau tidak boleh berdakwah kepada orang lain? Apakah kita harus menunggu seluruh anggota keluarga kita taat dahulu, baru boleh berdakwah kepada orang lain?

Mari kita lihat kisah perjalanan dakwah para Nabi dan Rasul yang digelari Ulul ‘Azmi.. Baca lebih lanjut

Dosa Meninggalkan Sholat Lebih Besar Daripada Berzina dan Membunuh

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.

Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itu pun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. Cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan Mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit Dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan IA tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina Dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah Ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” “Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja Dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina. Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja Dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib Dan tidak perlu atas dirinya. Berarti IA seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur Dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat Dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya Dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

(Dikutip dari buku 30 kisah teladan-KH Abdurrahman Arroisy)

Dalam hadist Nabi SAW disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat adalah lebih besar dosanya dibanding :

  1. Dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an
  2. Membunuh 70 nabi
  3. Bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah.

Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka IA akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 Hari, sedangkan satu Hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi saw., mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi Kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

——————————————————————————————————————————————

Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar lainnya

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27)

Dalam Al-qur’an telah banyak dan jelas ayat tentang perintah shalat. Dalam pembahasan hadis-hadis tentang apakah orang yang meninggalkan sholat itu kafir, disimpulkan: Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’’ (kesepakatan) mereka serta perkataan beberapa ulama tabi’in dan sesudahnya menyatakan bahwa “orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam).”

Ibnul Qayyim dalam Ash Sholah, hal. 56, mengatakan: ”Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” [2]

Mengapa memilih Islam sebagai agama? Mengapa menuliskan “Islam” sebagai agama di KTP? Apakah telah dan sedang menjalankan rukun-rukun Islam? Padalah rukun adalah sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan, dalam hal ini sah sebagai pemeluk Islam.

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khattab r.a. dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim) [3]

Abu Hurairah berkata” Aku mendengar Rasullullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari amalan manusia adalah solatnya, jika amalan solatnya baik maka dia akan bahagia dan beruntung, Jika amalan solatnya buruk maka dia termasuk orang-orang yang rugi. Jika terdapat kekurangan sedikit pada amalan solat fardhunya, maka Allah Azza Wajalla Berfirman: ” Lihatlah ( hai para malaikat ) apakah hambaku mengerjakan solat sunat untuk menyempurnakan solat fardhunya?’ Kemudian jika hambaku menyempurnakan solat sunat, maka solat sunat itu untuk menyempurnakan solat fardu yang kurang, kemudian seluruh amalannya diperlakukan seperti itu ” (Sahih Tirmidzi, Ibnu Majah no 193, 1425,1426) [4]

Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Jaulah

Kisah Habib An Najjar

13. Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (QS. Yaasiin 13)

14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata:` Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang- diutus kepadamu `. (QS. Yaasiin 14)

Oleh karena kedua utusan itu tidak berhasil melaksanakan misinya, dikirim lagi seorang yang bernama Syam’un dengan tugas yang sama. Risalah yang mereka bawa adalah supaya penduduk Antakiyah itu mau membersihkan dirinya dari perbuatan syirik, supaya mereka melepaskan (membuang) segala bentuk sesembahannya, dan kemudian kembali kepada ajaran tauhid.

15. Mereka menjawab:` Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka `. (QS. Yaasiin 15)

Kemudian disebutkan alasan pokok kaumnya tidak mau beriman kebanyakan orang-orang yang mendustakan ketiga orang utusan itu, karena mereka berkeyakinan ketiga utusan itu (Yuhana, Bulis dan Syam’un) itu adalah manusia biasa saja seperti mereka juga, tanpa ada keistimewaan yang menonjol. Waktu itu (mungkin juga sekarang), seseorang tiada akan dihargai kalau tidak mempunyai kepandaian atau keahlian yang istimewa luar biasa.

Alasan kedua, karena mereka yakin bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih tidaklah menunaikan risalah ataupun kitab yang berisi wahyu dan Dia tidak pula memerintahkan untuk beriman dengan ketiga utusan itu. Oleh karena itu mereka menyimpulkan ketiga utusan itu bohong belaka. Lafal “ma anzalar rahmanu”, menunjukkan bahwa penduduk Antakiyah itu telah lama mengenal Tuhan, cuma mereka mengingkarinya dan digantinya dengan berhala. Sebab itulah segala Rasul-rasul mereka tolak.

16. Mereka berkata:` Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. (QS. Yaasiin 16)

Pandangan demikian dibantah oleh utusan-utusan itu. Hanya Allah yang mengetahui bahwa kami ini sungguh-sungguh adalah orang yang diutus kepada kamu. Bilamana kami bohong azab yang hebatlah yang akan menimpa kami”, jawab mereka dengan tegas. Tugas kami ini akan dibantu oleh Tuhan, dan pasti akan diketahui kelak siapa yang bersalah dan harus menanggung resiko atas kesalahan itu. Dalam ayat lain jawaban seperti itu memang bisa diucapkan oleh seorang Rasul misalnya:

Artinya:

Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya. (Q.S. Al Ankabut: 53)

17. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas `. (QS. Yaasiin 17)

Kemudian dijelaskan misi yang mereka bawa, yakni bahwa Rasul-rasul itu hanyalah sekadar menyampaikan risalah Allah. Terserahlah pada manusia apakah akan beriman (percaya) kepada risalah tersebut atau tidak Andai kata mereka beriman, faedah keimanan itu adalah untuk kebahagiaan mereka jua, di dunia dan di akhirat. Sebaliknya kalau orang-orang kafir itu tidak mau melaksanakan seruan Rasul-rasul itu toh akibatnya akan menimpa diri mereka sendiri.

18. Mereka menjawab:` Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami `. (QS. Yaasiin 18)

19. Utusan-utusan itu berkata:` Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas `. (QS. Yaasiin 19)

Mereka (penduduk Antakiyah) itu terpojok, tidak bisa lagi mematahkan alasan-alasan Rasul itu. Sebab itu mereka mengancam “Kalau kesengsaraan menimpa kami kelak, maka hal ini disebabkan perbuatan ini”. Sebab itu kalau kamu tidak mau menghentikan dakwah yang sia-sia ini, terpaksa kami harus merajam (melempar) kamu dengan batu atau kami jatuhkan padamu siksaan yang amat pedih. Ketiga utusan itu menangkis: “Kalau kamu terpaksa mengalami siksaan kelak itu adalah akibat perbuatanmu sendiri, bukan karena kami. Bukankah Anda sekalian yang mempersekutukan Allah, mengerjakan pekerjaan maksiat, melakukan kesalahan-kesalahan? Sedang kami hanya sekadar mengajak kamu untuk mentauhidkan Allah, mengikhlaskan diri dalam beribadah dan tobat (dari segala kesalahan) kepada-Nya. Apakah karena kami memperingatkan kamu dengan azab Allah yang sangat pedih dan mengajak kamu mentauhidkan-Nya, lalu kamu siksa kami? Itukah balasan yang pantas buat kami? Hal itu menunjukkan bahwa kamulah bangsa yang melampaui batas (keterlaluan). Keterlaluan dengan cara berpikir dan menetapkan putusan untuk menyiksa dan merajam kami. Karena kamu menganggap buruk orang-orang yang semestinya kamu mengambil petunjuk dari padanya, demikian juga faktor yang membawa kepada kebahagiaan kamu jadikan kecelakaan. Ayat yang serupa ini mirip pengertiannya dengan ayat:

Artinya:

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. Al A’raf: 131)

20. Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata:` Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, (QS. Yaasiin 20)

Sunatullah berlaku bahwa setiap Rasul yang bertugas menyampaikan kebenaran bila mereka terdesak pasti akan datang bantuan Tuhan untuk membelanya. Datanglah seorang laki-laki bernama Habib, sebagaimana diceritakan di atas. Yang jelas dia ini bukan orang yang berpengaruh ataupun mempunyai kekuasaan yang menentukan, juga bukan keluarga atau orang yang berpengaruh terhadap raja negeri itu. Hanya dengan dinamika kekuatan imannya sajalah dia datang dari pelosok negeri guna membela utusan Nabi Isa dengan memperingati orang-orang yang hendak menjatuhkan siksaan terhadap para utusan Nabi Isa, seraya ia menyerukan agar mereka mengikuti Rasul-rasul Tuhan yang datang hanya menyampaikan petunjuk Allah.

21. ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Yaasiin 21)

Laki-laki itu menjelaskan lagi ketiga utusan yang mendakwahkan kebenaran itu tidak mengharapkan balas jasa sama sekali atas jerih payahnya dalam menyampaikan risalah itu. Merekalah yang memperoleh petunjuk dari Allah SWT bahwa yang seharusnya disembah itu adalah Allah Yang Maha Esa, tanpa memperserikatkan-Nya dengan sesuatu apapun. Laki-laki yang bernama Habib itu datang dari jauh, menjelaskan lagi kepada penduduk Antakiyah itu bahwa ia memberikan pelajaran dan pengajaran kepada mereka, setelah ia meyakinkan apa yang disampaikannya merupakan sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri. Kenapa pula aku tidak akan menyembah kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa yang telah menciptakan aku, dan kepada-Nya akan kembali semua yang hidup ini? Di sanalah kamu akan menerima segala ganjaran amal perbuatanmu. Yang berbuat baik pasti menikmati hasil kebaikannya, yang berbuat jahat, sudah barang tentu tidak sanggup melepaskan diri dari azab sebagai balasan. Penegasan di alas adalah sebagai jawaban dari pertanyaan kaumnya yang tidak mau beriman itu.

Apakah engkau sendiri (hai Habib) beriman dengan para utusan itu dan engkau percaya kepadanya dan dengan sepenuh hati untuk beriman dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa itu?

Apakah pantas aku mencari atau menjadikan tuhan yang lain selain dan pada Tuhan Yang Maha Esa itu? Tuhan yang tiada sanggup memberi manfaat atau menolak mudarat, tuhan yang tiada mendengar dan tiada melihat?. Sebaliknya Tuhan yang aku sembah andai kata ia bermaksud mencelakakan aku tiada aku sanggup mengelakkannya, malah tuhan-tuhan yang kamu sembah itu tidak bisa memberi pertolongan (syafaat). Demikian pula tuhan-tuhan itu sudah barang tentu tidak dapat menghindarkan aku dari siksaan Allah, walau pun aku telah menyembah mereka.

Oleh karena itu bila aku turut serta pula menyembah apa yang kamu sembah selain dari Tuhan Yang Maha Esa, sungguh aku telah menempuh jalan yang sesat. Kalau aku menyembah patung yang terbikin dari batu atau makhluk-makhluk lainnya, sedang dia sama sekali tidak mungkin mendatangkan manfaat atau menolak mudarat, bukankah aku sudah berada dalam kesesatan?

Laki-laki yang datang dari jauh (Habib) itu mengakhiri nasihatnya dengan menegaskan di hadapan kaumnya kepada ketiga utusan itu tentang pendiriannya yang sejati, yakni “Dengarlah wahai utusan-utusan Nabi Isa, aku beriman kepada Tuhanmu yang telah mengutus kamu. Oleh karena itu saksikanlah dan dengarkanlah apa yang aku ucapkan ini”. Menurut riwayat, setelah Habib mengumandangkan pendiriannya, yakni ia beriman kepada para utusan Nabi Isa itu, beriman kepada Allah Yang Maha Esa dengan dalil-dalil seperti disebutkan di atas, kaum kafir itu melemparinya dengan batu. Sekujur tubuhnya mengeluarkan darah. Akhirnya Habib Syahid menegakkan kebenaran. Ada pula riwayat kedua kakinya ditarik dengan arah yang berlawanan sampai sobek dari arah duburnya memancar darah segar. Ia gugur dalam melaksanakan tugasnya. Sebelum menemui ajalnya, pahlawan tersebut masih sempat berdoa kepada Tuhan:

Artinya:

Ya Allah tunjukilah kaumku. sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.

Pada saat Hari Berbangkit tiba, maka Allah memerintahkan kepada Habib: “Masuklah engkau ke dalam surga sebagai balasan atas apa yang telah engkau kerjakan selama di dunia”. Setelah ia masuk ke dalam surga itu dan merasakan betapa indah dan nikmatnya balasan Allah bagi orang yang beriman dan sabar dalam melaksanakan tugas dakwah, ia pun berkata: “Kiranya kaumku dahulu mengetahui bahwa aku memperoleh magfirah dan memperoleh kemuliaan dari Allah”, Magfirah dan kemuliaan yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh sebagian manusia yang beriman. Sesungguhnya ayat di atas memakai lafal “tamanni” (mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dicapai) guna untuk mendorong kaum Antakiyah dan orang-orang mukmin pada umumnya agar berusaha sebanyak mungkin memperoleh ganjaran seperti itu, tobat dari segala kekafiran dan masuk ke dalam kelompok orang yang merasakan indahnya dan lezatnya beriman kepada Allah SWT, menaati dan mengikuti jalan para wali Allah dengan cara menahan marah dan melimpahkan kasih sayang kepada orang yang memusuhinya. Kata Ibnu `Abbas, Habib menasihatkan kepada kaumnya ketika ia masih hidup dengan ucapan “Ikutilah risalah yang dibawa oleh para utusan itu”. Kemudian setelah ia meninggal dunia akibat siksaan mereka ia juga masih mengharapkan “kiranya kaumku mengetahui bahwa Allah telah mengampuniku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”. Setelah Habib dibunuh, Allah menurunkan siksa-Nya kepada mereka Jibril diperintahkan mendatangi kaum yang durhaka itu. Dengan satu kali teriakan saja bagaikan halilintar kerasnya, mereka tiba-tiba mati semuanya. Itulah suatu balasan yang setimpal dengan kesalahan karena mendustakan utusan-utusan Allah, membunuh wali-wali-Nya dan mengingkari risalah Allah.

22. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakan dan yang hanya kepada-Nya kamu (semua) akan dikembalikan? (QS. Yaasiin 22)

Selanjutnya dalam ayat ini digambarkan kesadaran yang timbul dalam hati dan cahaya iman yang telah menyinari jiwa orang itu, sehingga ia berpendapat bahwa tidak ada atasan sedikitpun baginya tidak beriman kepada Allah SWT, karena Dialah yang telah menciptakan dan membentuknya sedemikian rupa dalam proses kejadian, sehingga memungkinkan dirinya memeluk agama tauhid yaitu agama yang mempercayai Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Pada akhir ayat ini orang itu menyatakan: “Hanya kepada Allah sajalah ia akan kembali setelah meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini, tidak kepada yang lain”.

Pernyataan ini timbul dari lubuk hati orang itu, setelah ia merasakan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.

Seseorang hamba menghambakan diri kepada Allah:

1. Karena merasakan kekuasaan dan kebesaran Allah. Hanya Dialah yang berhak disembah, tidak ada sesuatupun yang lain, karena keyakinan itu is tetap menghambakan diri kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun, apakah ia diberi nikmat oleh Nya atau tidak, apakah ia dalam kesengsaraan atau dalam kesenangan, apakah dalam kesempitan atau kelapangan.

2. Hamba yang beribadat kepada Allah SWT karena merasakan nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya, ia merasa tergantung kepada nikmat Allah itu.

3. Karena hamba itu mengharapkan pahala daripada-Nya dan takut ditimpa siksa-Nya.

Hamba yang dimaksud dalam ayat ini, ialah hamba yang termasuk golongan pertama. Hamba itu tetap beribadat kepada Allah sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya, sekalipun ia ditimpa malapetaka, kesengsaraan dan cobaan-cobaan yang lain. Ia menyatakan bahwa seluruh yang ada padanya, jiwa dan raganya, hidup dan matinya, semuanya adalah untuk Allah.

Keimanan orang ini sesuai dengan iman yang dimaksud dalam firman Allah SWT:

Artinya:

Katakanlah: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. Al An’am: 162-163)

23. Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? (QS. Yaasiin 23)

24. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. (QS. Yaasiin 24)

Ia lalu memperoleh jawaban yang benar alas pertanyaan itu, ialah: bahwa tidaklah patut sama sekali baginya bertuhan kepada selain Allah. Hanya Allah sajalah Tuhan yang sebenarnya. Dan jika ia bertuhan kepada selain Allah, pastilah ia berada dalam kesesatan yang nyata.

25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku. (QS. Yaasiin 25)

Akhirnya, orang tersebut mengambil keputusan yang tepat berdasar keyakinan yang bulat, bahwa ia hanya beriman kepada Allah, yaitu Tuhan yang sebenarnya bagi dia dan kaumnya. Maka ia lalu mengumumkan keimanan dan keyakinannya itu kepada kaumnya, dan berkata dengan tegas: “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah yaitu Tuhan kamu yang sebenarnya. Maka dengarkanlah pernyataan imanku ini”.

Sikap dan pernyataan iman seperti tersebut di atas, yang dilontarkan di tengah-tengah masyarakat yang masih bergelimang kekafiran, kemusyrikan dan kemaksiatan, benar-benar merupaan keberanian yang timbul dari cahaya iman yang telah menerangi hati nuraninya, ia telah beriman. Dan ia ingin agar kaumnya juga beriman, Ia tak gentar kepada ancaman yang membahayakan dirinya, demi untuk melaksanakan tugas sucinya, mengajak umat ke jalan yang benar.

Menurut suatu riwayat, ketika orang itu berkata demikian kaumnya menyerangnya dan membunuhnya dan tidak seorangpun yang membelanya.

Sedang menurut Qatadah: “Kaumnya merajamnya dengan batu, dan dia tetap mengatakan (berdoa)” “Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku, karena mereka. tidak mengetahui”. Demikianlah kaumnya merajamnya sampai ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Dalam riwayat disebutkan, bahwa orang yang dimaksud pada ayat-ayat di atas bernama Habib Ibnu Murry, seorang tukang kayu yang terkena penyakit campak, akan tetapi ia suka bersedekah, sehingga separo dari penghasilannya sehari-hari di sedekahkannya. Disebutkan, bahwa setelah kaumnya mendengar pernyataan imannya itu maka berkobarlah kemarahan terhadapnya, dan akhirnya mereka membunuhnya. Akan tetapi pada saat sebelum ia menghembuskan nafas yang terakhir, turunlah kepadanya, malaikat untuk memberitahukan, bahwa Allah telah mengampuni semua dosa-dosanya yang telah dilakukannya sebelum ia beriman, dan ia dimasukkan Nya ke dalam surga sehingga ia termasuk golongan orang-orang yang mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT.

Pada detik-detik yang terakhir itu ia masih sempat mengucapkan kata harapan: “Alangkah baiknya, jika kaumku mengetahui karunia Allah yang dilimpahkan Nya kepadaku, berkat keimananku kepada Nya, yaitu bahwa aku telah beroleh ampun atas dosaku, dan aku akan dimasukkan ke dalam surga dengan ganjaran yang berlipat ganda, dan aku akan termasuk golongan orang-orang yang beroleh kemuliaan di sisi Nya. Seandainya mereka mengetahui hal ini, tentulah mereka akan beriman pula”.

Pernyataan Habib itu adalah pernyataan yang amat tinggi nilainya dan menunjukkan ketinggian akhlaknya. Sekalipun ia telah dirajam dan disiksa oleh kaumnya, namun ia tetap bercita-cita agar kaumnya sadar dan mendapat rahmat dari Tuhan sebagaimana yang telah dialaminya itu.

(QS. Yaasiin 13-25)

Jadi ada 4 orang Amir, Mutakallim, Makmur dan dalil. Namanya (Yuhana, Bulis, Syam’un dan Habib An Najjar)

Dan hendakklah ada di antaramu segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan), menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

“Dan suruhlah keluargamu (umatmu) dengan sholat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibatnya (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru(manusia) kepada Allah dan mengerjakan amal shaleh dan berkata, “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”. (Fushilat: 33)

“Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (Adz Dzariyat: 55).

Hadits-hadit Nabi SAW tentang kelebihan jaulah

Dari Anas r.a berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Sepagi atau sepetang di jalan Allah SWT adalah lebih baik dari dunia dan segala isinya. (HR. Bukhari no. 6568)

Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa aku telah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda: Berdiri sejenak di jalan Allah SWT adalah lebih baik dari beribadat pada malam lailatul Qadar di hadapan Hajar Aswad. (HR. Ibn Hibban)

Hazrat Suhail r.anhu berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Berdirinya salah seorang dari kalian sesaat dijalan Allah SWT adalah lebih baik daripada segala amalan kebaikan yang dilakukan sepanjang hayat di keluarganya (rumahnya). (HR. Tirmizi)

Dari Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Barang siapa yang keluar dijalan Allah SWT walau untuk satu petang, maka sebanyak mana debu yang melekat padanya, dia akan diberi kasturi sebanyak itu dihari kiamat nanti. (HR. Ibnu Majah)

Dari Aisyah r.ha. meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah bercampur pada hati seorang muslim debu-debu (ketika berada) di jalan Allah, kecuali Allah pasti mengharamkan atasnya api neraka.” (Hr. Ahmad dan Thabrani dalam al Awsath, dan sanad Ahmad semuanya tsiqat – Majma’uz Zawaa ‘id V/ 7452)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Berdiri sesaat di jalan Allah lebih baik daripada beribadah di malam lailatul qadar di depan Hajr Aswad.” (Hr. Ibnu Hibban. Berkata pentahqiq, “Isnadnya shahih” X/463)

Dari Utsman bin Affan r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Satu hari di jalan Allah lebih baik daripada seribu hari selain di jalan Allah’. “ (Hr. Nasai, bab Keutamaan Ribath, Hadits nomor 3172)

Menurut riwayat Ibnu Ishaq, Nabi saw pergi ke tempat-tempat musim berkumpul orang-orang Arab, yaitu pasar yang diadakan beberapa kali pada setiap tahun, misalnya Pasar Ukaz yang diadakan selama bulan Syawal, Pasar Majannah yang berlangsung sesudah bulan Syawal selama 20 hari. Selain itu selama musim haji diadakan perayaan di Pasar Zil Majaz. Selain mendatangi pasar-pasar, Nabi saw juga mendatangi tempat-tempat suku Kindah, suku Bani Kalb, suku Bani Amir bin Sha’sha’ah, Muharib bin Khashafah, Fazarah, Ghassan, Murrah, Hanifah, Sulaim, Bani Nashr, Bani Al-Bakka, Al-Harits bin Ka’b, Udzrah dan Hadramy. Namun tak seorang pun di antara mereka yang memenuhi seruan beliau.

Imam az-Zuhry berkata: “Diantara kabilah-kabilah yang didatangi oleh Rasulullah dan diajak serta ditawarkan oleh beliau adalah Bani Amir bin Sha’sha’ah, Muhârib bin Khasfah, Fazarah, Ghassan, Murrah, Hanifah, Sulaim, ‘Abs, Bani Nashr, Bani al-Bukâ’, Kindah, Kalb, al-Hârits bin Ka’b, ‘Adzrah dan Hadlârimah. Namun tidak seorangpun dari mereka yang meresponsnya.

Ibnu Sa’d di dalam Thabaqat-nya berkata: “Pada setiap musim haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi dan mengikuti orang-orang sedang menunaikan haji sampai ke rumah-rumah mereka dan di pasar-pasar ‘Ukazh, Majinnah dan Dzi’l-Majaz. Beliau mengajak mereka agar bersedia membelanya sehingga ia dapat menyampaikan risalah Allah, dengan imbalan surga bagi mereka. Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapat seorangpun yang membelanya.Setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru kepada mereka:

“Wahai manusia! ucapkanlah La ilaha illallah, niscaya kalian beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang Ajam. Jika kalian beriman, maka kalian akan menjadi raja di surga.“

Abu Lahab selalu menguntit Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menimpali, “Janganlah kalian mengikutinya! Sesungguhnya dia seorang murtad dan pendusta.“ Sehingga mereka dengan cara yang kasar menolak dan menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam usaha keliling/jaulah tersebut, Abu Lahab selalu menguntit Nabi Muhammad agar orang2 tidak mau ikut ajakan Nabi.. Jadi, Nabi Muhammad selalu keliling menawarkan Islam ini kepada setiap manusia yg bisa ditemuinya.

Ibnu Ishaq menyebutkan metode penawaran dan sikap mereka terhadapnya, dan berikut ini adalah ringkasannya:

1. Bani Kalb

Nabi SAW datang sendiri ke perkampungan mereka, yang juga disebut Bani Abdullah. Beliau menyeru mereka kepada Allah dan menawarkan langsung kepada mereka. Beliau bersabda kepada mereka: “Wahai Bani Abdullah! Sesungguhnya Allah telah membaguskan nama bapak kalian”. Namun mereka tetap menolak apa yang ditawarkan itu.

2. Bani Hanifah

Beliau mendatangi mereka di rumah-rumah mereka dan mendakwahi mereka kepada Allah. Beliau sendiri yang menawarkan kepada mereka namun tak seorangpun dari kalangan bangsa Arab yang penolakannya lebih buruk daripada penolakan mereka.

3. Bani Amir bin Sha’sha’ah

Beliau mendatangi mereka dan mendakwahi mereka kepada Allah. Beliau sendiri juga yang datang menawarkan. Buhairah bin Firas, salah seorang pemuka mereka berkata: “Demi Allah, andaikan aku dapat menculik pemuda ini dari tangan orang Quraisy, tentu orang-orang Arab akan melahapnya”. Kemudian dia melanjutkan: “Apa pendapatmu jika kami berbai’at kepadamu untuk mendukung agamamu, kemudian Allah memenangkan dirimu dalam menghadapi orang-orang yang menentangmu, apakah kami mempunyai kedudukan sepeninggalmu?”.

Beliau menjawab: “Kedudukan itu terserah kepada Allah, Dia menempatkannya sesuai kehendak-Nya”.

Buhairah berkata : “Apakah kami harus menyerahkan batang leher kami kepada orang-orang Arab sepeninggalmu? Kalaupun Allah memenangkanmu, pasti kedudukan itu juga akan jatuh kepada selain kami. Jadi kami tidak membutuhkan agamamu”. Maka, merekapun enggan menerima ajakan beliau.

Tatkala Bani ‘Amir pulang, mereka bercerita kepada seorang sepuh dari mereka yang tidak dapat berangkat ke Mekkah karena usianya yang sudah lanjut. Mereka memberitahukan kepadanya: “Ada seorang pemuda Quraisy dari Bani Abdul Muththalib menemui kami yang mengaku nabi. Dia mengajak kami agar sudi melindunginya, bersama-samanya dan pergi ke negeri kami bersamanya”.

Orang tua itu menggayutkan kedua tangannya diatas kepala sembari berkata:”Wahai Bani ‘Amir, adakah sesuatu milik Bani ‘Amir yang tertinggal? Adakah seseorang yang mencari barangnya yang hilang? Demi diri fulan yang ada ditangan-Nya, itu hanya diucapkan oleh keturunan Isma’il. Itu adalah suatu kebenaran. Mana pendapat yang dahulu pernah kalian kemukakan?”.

Rasulullah SAW pun juga membutuhkan seorang dalil saat akan berdakwah di Madinah.

Musim haji dan keramaian pasar-pasarnya, merupakan momen penting sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memanfaatkannya untuk menjumpai para pemuka suku yang memiliki pengaruh dan manusia pada umumnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kepada para kepala suku untuk mau melindungi supaya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa berdakwah, tanpa memaksa para pemuka itu untuk menerima dakwahnya.

Untuk melakukan hal tersebut, beliau berkata “Adakah orang yang bisa membawaku ke kaumnya, karena kaum Quraisy melarangku menyampaikan perkataan Rabbku”. Diriwayatkan oleh Abu Daawud dalam Sunan-nya, 5/Kitab Sunnah, hadits no. 4734. Ibnu Mâjah dalam al-Muqaddimah, hlm. 73, hadits no. 201. Imam Ahmad dalam al-Fathurrabâni, 20/267, dari hadits Jaabir Radhiyallahu ‘anhu. Riwayat ini disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Sirah-nya, hlm. 282 dan beliau rahimahullah berkata: “Riwayat ini sesuai dengan syarat Imam al-Bukhâri”.

Mengapa harus ada amir/pimpinan dalam jaulah..?! itu sesuai pesan Nabi Muhammad SAW kepada kita:

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu padang pasir dari bumi kecuali mengangkat salah satu dari mereka untuk menjadi amir.” (HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr)

“Bila tiga orang keluar dalam suatu perjalanan, hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi amir.” (HR. Abu Daud dari Ibnu Sa’id)

Kesimpulan, dalam jaulah dibutuhkan mutakallim (yang akan berbicara), dibutuhkan dalil/penunjuk jalan, dibutuhkan amir dalam perjalanan, bisa juga diikuti makmur (jamaah penggembira yang mengikuti rombongan).

Sebab-sebab Do’a Tidak Dikabulkan

Bukankah setiap do’a hamba yang berdo’a kepada Allah pasti dikabulkan?

“Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku-kabulkan..” (Al-Qur’an)

“Tiada seorang berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a, kecuali dikabulkan-Nya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa.” (HR. Ath-Thabrani)

Banyak orang yang berdoa kepada Allah tetapi belum dikabulkan di dunia oleh karena itu agar doa kita segera terkabul hendaknya kita mengetahui hal-hal yang dapat menyebabkan do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah, yaitu:

  • Makan, minum, dan berpakaian didapatkan dari yang haram.

Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang juga Dia tujukan kepada para rasul, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al-Mukminun: 51) dan Dia juga berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.’ (QS. Al-Baqarah: 172) Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang letih dalam perjalanannya, rambutnya berantakan, dan kakinya berpasir, seraya dia menengadahkan kedua tanganya ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan. (HR. Muslim no. 1015)

  • Tidak sabar dan terburu-buru doa ingin segera dikabulkan.

Hadist riwayat Abu Hurairah r.a.: bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Akan dikabulkan doa seseorang di antara kamu sekalian selama dia tidak terburu-buru berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi do’aku tidak atau belum dikabulkan.'” (Shahih Muslim No.4916)

  • Bermaksiat, meninggalkan kewajiban, dan membiarkan suatu kejahatan.

“Hendaknya kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan siksaNya kepada kalian, lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi).

  • Tidak mau menolong orang yang sedang kesempitan (kesusahan).

“Barangsiapa ingin agar do’anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan.” (HR. Ahmad)

  • Lupa memuji Allah dan membaca Sholawat Nabi sebelum berdoa.

“Jika salah seorang di antara kamu berdoa, hendaknya memulai dengan memuji dan menyanjung Tuhannya, dan bershalawat kepada Nabi, kemudian berdoa apa yang dia kehendaki.” (H.r. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad).

Dari Ali r.a. ia berkata, “Setiap do’a terhalang, sehingga diucapkan shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.” (H.r. Ath-Thabrani)

  • Berdoa dengan hati lalai dan suara yang keras (berlebih-lebihan dalam mengeraskan suara)

“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara pelan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 55)

  • Lupa mendoakan sudara muslim yang lainnya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Darda r.ha., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata : aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Kitab Shahih Muslim no. 2733)

  • Lupa mendoakan orang tuanya.

Tetaplah memperbaiki diri, menyempurnakan adab-adab dalam berdo’a, memilih waktu-waktu mustajab untuk berdo’a, dan tetap berbaik sangka kepada Allah.

BAB Al-Qur’an dan Adab-adabnya

Adab Membaca Al-Qur’an

Bacalah Al-Qur’an dengan perasaan ta’zhim wal ihtiram (mengagungkan dan memuliakan), karena Al-Qur’an adalah Kalamullah. Maka hendaklah kita membacanya dengan adab-adab yang baik, di antara adab-adab membaca Al-Qur’an adalah sbb:

  • Badan, pakaian, dan tempat suci dari najis, dan ada wudlu. (Abu Dawud, Tirmidzi, Thabrani, Hakim)
  • Bersiwak dahulu sebelum membaca Al-Qur’an. (Baihaqi, Abu Nu’aim)
  • Menghadap kiblat. (Ibnu Hajar)
  • Al-Qur’an diletakkan di tempat yang lebih tinggi. Jangan meletakkan Al-Qur’an di bawah apapun. (Hakim). *Sebaiknya memakai meja atau bantal, baik ketika sedang dibaca atau tidak, hendaknya ditaruh di tempat yang tinggi.
  • Membaca dengan memahami artinya, sehingga bisa diresapi. (Thabrani)
  • Membaca dengan penuh rasa takut kepada Allah. (Baihaqi, Khatib)
  • Dianjurkan menangis ketika mendengar ayat-ayat siksa dan neraka. Dan bergembira ketika mendengar ayat-ayat pahala dan surga. Jika tidak bisa menangis, berpura-puralah menangis. (Baihaqi)
  • Membaca dengan makhraj Arab. Jangan membacanya dengan menggunakan dialek bahasa sendiri. (Baihaqi, Thabrani, Hakim)
  • Membaca dengan tajwid dan tartil. (Ibnu Abu Dawud, Al-Qur’an)
  • Memulai pembacaan Al-Qur’an dengan ta’awudz dan basmallah. (Al-Qur’an) *Kecuali pada surat At-Taubah tidak perlu membaca Basmallah.
  • Membaca dengan qiraat Arab. Haram membacanya dengan nada nyanyian. (Baihaqi, Thabrani, Hakim)
  • Boleh mengeraskan bacaan Al-Qur’an, jika: Diperkirakan tidak akan menimbulkan riya, dapat menyemangatkan orang lain membaca Al-Qur’an, dan tidak mengganggu orang lain. (Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i) *Sebaiknya merendahkan suara bacaan Al-Qur’an jika ada orang yang sedang sholat. Dan jangan mengeraskannya untuk membangunkan orang ketika Subhu. (Al-Qur’an, Abu Dawud, Tirmidzi)
  • Dianjurkan menutup Al Qur’an ketika diajak bicara oleh orang lain dan mulai membacanya lagi dengan membaca ta’awudz.
  • Jangan memandang kesana-kemari ketika membaca Al Qur’an. Orang yang sedang membaca Al Qur’an, berarti Allah sedang berbicara dengannya. Sangatlah tidak beradab, ketika Allah berbicara dengan kita, tetapi tidak dipedulikan. Dan jangan membaca Al Qur’an sambil makan dan minum.
  • Apabila membaca ayat-ayat sajdah, maka disunnahkan untuk bersujud tilawah dengan ada wudlu, menghadap kiblat, dan cukup dilakukan sekali. (Muslim, Ahmad, Thabrani, Ibnu Majah)

Doa sujud Tilawah, ialah:

Sajada Wajhiyalilladzi khalaqahu wa syaqqa sam ‘ahu wa basharahu bi haulihi wa quwwatih.

“Kuhadapkan mukaku kepada yang telah mendaptakannya, yang telah membukakan pendengarannya dan penglihatannya, dengan ucapannya dan kekuatan-Nya.”

Adab Terhadap Al-Qur’an

  • Meletakkan Al-Qur’an dengan bagian Al-Fatihah di atas.
  • Jangan membawa Al-Qur’an ke negeri musuh Islam. Ditakutkan Al-Qur’an akan dirusak oleh mereka. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah)
  • Jangan berdebat dengan Al-Qur’an. (Baihaqi, Ibnu Majah, Hakim) *Dikhawatirkan, argumen Al-Qur’an yang diajukan, ditolak oleh lawan bicara kita, berarti secara tidak langsung ia sudah menolak Al-Qur’an. Dan berdebat itu sendiri sangat tidak disukai oleh agama. Bahkan dianjurkan untuk menghindari perdebatan walaupun merasa benar.
  • Seseorang yang sudah menghafal Al-Qur’an atau sebagian ayat Al-Qur’an, jangan mengatakan, “Aku lupa ayat ini…”, tetapi katakanlah, “Aku dilupakan oleh Allah ayat ini…” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
  • Orang-orang yang tidak boleh memegang Al-Qur’an, ialah: Orang junub, Orang haid, Orang nifas, Orang kafir.
  • Jangan menyelonjorkan kaki ke Al-Qur’an atau menyentuhnya dengan kaki. (Abu Nasir)
  • Al-Qur’an tidak boleh dipakai bantal atau alas. (Thabrani, Baihaqi)
  • Al-Qur’an tidak boleh dilangkahi. (Ibnu Hajar Asqalani)
  • Umar r.a. senang jika melihat orang yang membaca Al-Qur’an memakai baju putih. (Malik)
  • Ketika khatam dari tilawah Al-Qur’an disunnahkan agar:

a. Memperbanyak takbir dan tahmid.

b. Mengumpulkan keluarga dan doa bersama-sama. (Ibnu Najar)

Baca juga: Keutamaan Al-Qur’an

BAB Thaharah dan Adab-adabnya

Definisi / Arti

  • Menurut bahasa, thaharah berarti bersih dan suci dari segala kotoran, baik yang nyata seperti najis maupun yang tidak nyata, contohnya aib.
  • Menurut syariat, thaharah artinya; melakukan sesuatu agar diijinkan shalat atau hal-hal lain yang sehukum dengannya, seperti wudlu, mandi wajib, dan menghilangkan najis dari pakaian, tubuh dan tempat shalat. ( QS Al Maa’idah: 6 )

Dalil Naqli

  • Allah SWT berfirman, “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (Al Muddatsir: 4)
  • “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang gemar bertaubat, dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Al Baqarah: 222).
  • “Bersuci adalah separuh dari iman.” (H.R. Muslim)

Hikmah Bersuci

  • Thaharah termasuk tuntutan fitrah. Fitrah manusia cenderung kepada kebersihan dan membenci kotoran serta hal-hal yang menjijikkan.
  • Memelihara kehormatan dan harga diri. Karena manusia suka berhimpun dan duduk bersama. Islam sangat menginginkan, agar orang muslim menjadi manusia terhormat dan punya harga diri di tengah kawan-kawannya.
  • Memelihara kesehatan. Kebersihan merupakan jalan utama yang memelihara manusia dari berbagai penyakit, karena penyakit lebih sering cepat tersebar disebabkan kotoran. Dan membersihkan tubuh, membasuh wajah, kedua tangan, hidung dan kedua kaki sebagai anggota tubuh yang paling sering berhubungan langsung dengan kotoran, akan membuat tubuh terpelihara dari berbagai penyakit.
  • Beribadah kepada Allah dalam keadaan suci. Allah menyukai orang-orang yang gemar bertaubat dan bersuci.

Thaharah ada dua macam:

  1. Bersuci dari najis.
  2. Bersuci dari hadats.

Air untuk Bersuci

  • Air yang turun dari langit, contohnya air hujan, air es, dsb. Dasar hukumnya; “ Allah turunkan dari langit air yang sangat bersih untuk bersuci. ( QS Al Anfal;11 ).
  • Air yang keluar dari dalam bumi, contohnya air laut, air sumur, air sungai, air dari mata air. Dalil; “ Karena laut itu sangat suci airnya dan halal bangkainya. ( Hadits Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad )

Pembagian / Klasifikasi Air:

1. Air suci lagi mensucikan ( Thahir Muthahhir ) adalah Air mutlak, yaitu air yang measih tetap pada sifat keasliannya sebagaiman yang diciptakan Allah swt ( H.R. Bukhari )

2. Air suci mensucikan tetapi makruh. ( Thahir Muthahhir Makruh ): Air musyammas, yaitu air yang terkena panas matahari.Air ini akan menjadi makruh bila; a. Jika berada di negeri yang sangat panas, b. Jika air itu diletakkan di bejana logam selain logam emas dan perak, seperti besi, tembaga dan logam apapun yang bisa ditempa, c. Jika air itu digunakan pada tubuh manusia atau binatang ( Dari Umar r.a, As Syafi’i )

3. Air suci tapi tidak mensucikan ( Thahir Ghoiru Muthahhir ). Adalah air sedikit yang sudah digunakan untuk bersuci yang fardhu. ( Bukhari, Muslim )

4. Air terkena najis. ( Mutanajjis ), yaitu air yang kemasukan najis. Air ini terbagi menjadi dua macam:

a. Air sedikit, yaitu yang kurang dari 2 kulah. Air ini akan otomatis menjadi

najis, begitu kemasukan najis meskipun sedikit dan tidak merubah sifat-sifat air seperti warna, bau dan rasa. ( HR Muslim, Kitab Al Khamis ). Ukuran 2 kulah= 60cm x 60cm x 60 cm.

b. Air banyak, yaitu air 2 kulah atau lebih. Air ini tidak otomatis menjadi najis jika kemasukan najis. Air ini baru menjadi najis, jika najis tersebut mampu merubah salah satu sifat-sifat dasar air yang tiga yaitu warna, rasa atau baunya. ( Ibnu Mundzir, Imam Nawawi )

Najis

Definisi:

1. Menurut bahasa: Apa saja yang kotor.

2. Menurut Syara: Berarti kotoran yang mengakibatkan shalat tidak sah. Contoh; darah dan air kencin.

Jenis najis yang terpenting ada 7 macam:

1. Khamer dan cairan apapun yang memabukkan. ( QS Al Maidah:90 ). Setiap yang memabukkan itu khamer, dan setiap khamer itu haram. ( H.R. Muslim ).

2. Anjing dan babi. ( H.R. Muslim, Daruqutni ).

3. Bangkai. Yaitu setiap binatang yang mati tanpa disembelih secara syar’i. ( QS Al Maidah:3 ). Kecuali bangkai-bangkai yang tidak dihukumi najis, yaitu antara lain a. Bangkai manusia, karena Allah telah memuliakan manusia ( QS Al Isra:70 ), b. Jasad orang Islam. ( Sesungguhnya orang Islam itu tidak najis. Hadits riwayat Bukhari ), c. Bangkai ikan dan belalang. ( HR Ibnu Majah:” Dihalalkan 2 macam bangkai dan dua macam darah, yaitu bangkai ikan dan belalang. Dan darah hati serta anak limpa.)

4. Darah yang mengalir termasuk nanah, karena kotor. ( QS Al An’am:145 ).

5. Kencing dan kotoran manusia maupun binatang. ( H.R. Bukhari, Muslim ).

6. Setiap bagian tubuh yang terlepas dari binatang yang masih hidup. Apa-apa yang terpotong dari seekor binatang, adalah bangkai. ( H.R. Hakim ), Kecuali rambut dan bulu binatang yang halal dimakan dagingnya, adalah suci. ( QS An Nahl:80 ).

7. Susu hewan yang haram dimakan dagingnya, seperti keledai, karena hukum susunya sama dengan dagingnya. Sedangkan dagingnya itu najis.

Tingkatan Najis:

1. Najis Mughallazhah ( Kelas Berat ), ialah najisnya anjing dan babi.

2. Najis Mukhaffafah ( Ringan ), ialah kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan selain susu, dan belum berumur 2 tahun. ( H.R. Bukhari, Muslim )

3. Najis Muthawassithah. ( Pertengahan ), yaitu najis selain anjing dan babi dan selain kencing bayi laki-laki yang baru hanya makan susu. Contoh kencing manusia, tahi binatang dan darah.

4. Najis yang dimaafkan, yaitu contohnya :

a. Percikan air kencing yang sangat sedikit, yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang.

b. Sedikit darah, nanah, darah kutu, tahi lalat, tahi cicak dan sejenisnya, selagi hal itu bukan perbuatan yang disengaja.

c. Darah dan nanah dari luka, sekalipun banyak, dengan syarat berasal dari orang itu sendiri, bukan atas perbuatan yang disengaja, dan najis itu tidak melampaui dari tempatnya yang biasa.

d. Tahi binatang yang mengenai biji-bijian ketika ditebah, dan tahi binatang ternak yang mengenai susu ketika diperah, asalkan sedikit dan tidak merubah sifat susu itu.

e. Tahi ikan dalam air apabila tidak sampai merubahnya dan tahi burung-burung di tempat yang biasa mereka datangi, seperti burung-burung di Masjidil Haram di Makkah dan Madinah dan yang lainnya. Karena tahi hewan itu tersebar merata dimana-mana sehingga sulit untuk dihindari.

f. Darah yang mengenai baju tukang potong hewan, asalkan sedikit.

g. Darah yang menempel di daging, asalkan sedikit.

h. Mulut anak kecil yang terkena najis muntahannya sendiri, ketika ia menetek dari ibunya.

i. Debu yang menerpa di jalanan.

j. Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir, seperti lalat, lebah, semut, dengan syarat binatang itu tercebur sendiri dan tidak merubah sifat air yang dimasukinya. ( H.R. Bukhari )

Cara Bersuci dari Najis pada Pakaian, Tubuh dan Tempat.

1. Najis Mughallazhah: Hanya bisa disucikan dengan dibasuh 7 x, salah satu di antaranya dicampur dengan tanah, baik pada pakaian, tubuh ataupun tempat shalat.

2. Najis Mukhaffafah ( Ringan ). Caranya ialah dengan diperciki air sampai merata.

3. Najis Muthawassithah. ( Pertengahan ). Hanya dapat disucikan jika dialiri air yang dapat menghilangkan bekasnya, sehingga wujud dan sifat-sifat najis itu hilang. Dan tidak mengapa jika masih tersisa warnanya seandainya memang amat sulit dihilangkan, seperti darah.

4. Kulit bangkai selain anjing dan babi. Disucikan dengan cara disamak, maksudnya dihilangkan cairannya yang dapat merusaknya jika dibiarkan, dengan menggunakan bahan pedas, sehingga jika kulit itu direndam di dalam air, tidak akan busuk dan rusak. ( H.R. Muslim ). Catatan: sesudah disamak, kulit itu masih wajib dicuci dengan air bersih, karena ia telah bertemu dengan obat-obatan yang najis, yang digunakan untuk menyamaknya.

BAB Istinja’ dan Adab-adabnya

Hampir setiap hari kita menuju kamar kecil (WC) untuk buang hajat. Tahukah kita bahwa adab istinja itu sangat penting?

Anjuran dalam beristinja:

  • Menggunakan sandal atau alas kaki untuk menghindari najis. (Imam Nawawi). Akan lebih baik, di dalam WC atau kamar mandi disediakan sandal khusus, dan sebaiknya tidak dibawa keluar WC / Kamar mandi.
  • Masuk WC/ Kamar mandi dengan melangkahkan kaki kiri telebih dulu. (Tirmidzi)
  • Doa masuk WC/ Kamar mandi (dianjurkan membaca doanya di luar pintu WC / Kamar mandi) Allahumma inni a’uudzubika minal khubutsi wal khobaaits. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan laki-laki dan wanita.” (Bukhari, Muslim).
  • Keluar WC/ Kamar mandi, disunnahkan dengan kaki kanan lebih dulu, dengan baca doa: Ghufroonaka. Alhamdulillahilladzii adzhaba ‘anil adzaa wa ‘aafanii. (Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkanku.) (HR Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)
  • WC adalah tempat berkumpul syetan. Tidak dianjurkan berlama-lama di dalamnya. Jika selesai hajatnya, secepatnya keluar dari WC. (Nasa’I, Ibnu Majah).
  • Dianjurkan memakai tutup kepala ketika di dalam WC, dan baru membukanya jika kita hendak membasahi rambut. (Ibnu Sa’ad). Jika tidak ada penutup kepala, hendaknya ditutup dengan lengan baju. (Imam Nawani).
  • Buang air hendaknya dengan duduk, jangan berdiri seperti orang Yahudi dan Nasrani. ( HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i ). Caranya adalah dengan duduk bertumpu di atas kaki kiri dan kaki kanan tegak di atas tanah. Hal ini akan lebih memudahkan najis keluar dan mengistirahatkan anggota tubuh utama, seperti lambung, dsb. (Imam Nawawi).
  • Hendakhnya beristinja hanya dengan tangan kiri. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. (Bukhari, Nasa’i, Muslim, Tirmidzi).
  • Sunnah/ amat dianjurkan menghemat air. Gunakan secukupnya. Nabi saw biasa menggunakan air dengan ukuran, seperti ukuran air wudhu, ukuran untuk buang air kecil dan untuk mandi. (Tirmidzi).
  • Hati-hati dengan cipratan air kencing, terutama jika kencing berdiri. Banyak orang yang disiksa di dalam kubur, karena tidak hati-hati ketika istinja dan tidak sempurna ketika berwudhu. (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah).

Larangan dalam beristinja:

  • Jangan membawa lafazh ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ atau ayat-ayat Al Qur’an ke dalam WC / Kamar mandi. (Nasa’i)
  • Jangan membuang hajat dengan menghadap ke arah kiblat dan jangan membelakanginya. Menghadaplah ke arah selain kedua arah tadi. Boleh menghadap atau membelakangi kiblat jika berada di dalam bangunan, itupun jika darurat atau terpaksa. (Bukhari, Nasai’i, Muslim, Tirmidzi). Maksud menghadap atau membelakangi kiblat adalah, menyingkapkan qubul atau dubur ke arah kiblat atau membelakanginya. (Imam Nawawi).
  • Jangan berbicara atau berkomunikasi di dalam WC. (Abu Dawud, Ibnu Majah). Termasuk menjawab salam pun tidak dianjurkan. Menjawabnya cukup dengan isyarat / berdehem. (Muslim, Tirmidzi, Nasa’i).
  • Tidak boleh berdua-berduaan di dalam satu kamar mandi, kecuali suami istri. (Ibnu Majah, Abu Dawud).
  • Tidak boleh beristinja menggunakan tulang atau kotoran hewan yang telah kering. Benda-benda itu adalah makanan jin. (Muslim, Nasa’i).
  • Jangan buang air kecil / besar di lubang-lubang tanah, karena mungkin itu tempat tinggal jin. Sa’ad bin Ubadah mati dibunuh oleh jin karena kencing di lubang tanah. Dan jangan pula buang hajat di jalan umum, tempat orang lalu lalang, di tempat berteduh, di sumber air / mata air, di kolam pemandian, di bawah pohon yang berbuah, atau di air yang mengalir. (Muslim, Tirmidzi).
  • Tidak disukai buang air langsung di air yang diam / tergenang, atau air yang mengalir, karena kebanyakan jin bertempat di situ pada malam hari. (Imam Nawawi).
  • Boleh buang air dengan memakai pispot. Nabi saw biasa meletakkannya di dekat tempat tidur Beliau. (HR Nasa’i).
  • Jangan makan, bernyanyi dan bersiul saat berada di dalam WC, meskipun tidak sedang buang hajat atau mandi. (Ibnu Majah, Abu Dawud).
  • Jangan menampakkan atau memperlihatkan aurat ketika buang air, usahakan bertutup diri atau pergi menjauh agar tidak terlihat oleh orang umum. (Muslim, Tirmidzi). Sebaiknya mencari tempat yang tidak terlihat oleh orang, tidak tercium baunya dan tidak terdengar. (Imam Nawawi).
  • Laki-laki tidak boleh melihat aurat sesama laki-laki, begitu pula wanita tidak boleh melihat aurat sesama wanita. (Ibnu Asakir).
  •  Makruh buang air kecil di kamar mandi, karena dikhawatirkan sisa air kencing akan mengenai badan orang yang mandi.(Tirmidzi). Kamar mandi dan WC sebaiknya dipisah.
  • Sunnah menuntaskan sisa air kencing dengan berdehem dan memijit-mijit kemaluan dari pangkal sampai ujung, 3 kali (bagi kaum laki-laki). (Imam Nawawi).
  • Jangan menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk istinja. Setelah selesai hendaknya tangan digosokkan ke tanah atau dinding untuk menghilangkan bau, lalu dicuci dengan air. (Imam Nawawi).
  • Jangan memandang ke langit, melihat ke arah kemaluan atau melihat kotoran yang keluar darinya. Dan makruh bagi orang yang sedang buang hajat itu, berbicara atau sambil melakukan pekerjaan/ aktifitas lain, selagi membuang hajatnya. (Muslim, Abu Dawud).
  • Benda-benda yang diperbolehkan untuk beristinja, yaitu: air, batu, tanah liat yang keras, dan kertas / tissue. Digunakan sebanyak 3 kali atau jumlah ganjil. (HR Bukhari, Ibnu Majah). Jika sudah suci pada kali yang ke-2, sempurnakan dengan yang ke-3. Jika sudah merasa suci pada kali tahap ke-4, maka sempurnakan dengan kelima, dst. Lebih diutamakan menggunakan gabungan batu dengan air (Imam Nawawi).

Benda-benda yang tidak sah untuk beristinja:

  • Benda-benda najis atau terkena najis. (Bukhari)
  • Makanan manusia, seperti roti dan sebagainya. Atau makanan jin, seperti tulang. (Muslim, Tirmidzi).
  • Benda-benda terhormat, seperti bagian tubuh binatang yang belum terpisah darinya, terlebih lagi bagian tubuh manusia. Tetapi jika telah terpisah darinya dan suci, seperti rambut binatang yang halal dimakan dagingnya dan kulit bangkai yang telah disamak, maka boleh untuk istinja.

BAB Kepada Orangtua dan Adab-adabnya

Keutamaan Orangtua

  • Ridha Allah bergantung pada ridha orangtua, murka Allah bergantung pada murka orangtua. (Tirmidzi)
  • Amal yang paling disukai Allah swt. adalah: Sholat tepat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orangtua, Berjuang di jalan Allah. Dan berbakti kepada kedua orangtua dengan sebaik-baiknya, nilainya sama dengan jihad di jalan Allah. (Bukhari, Muslim)
  • Bersopan santun terhadap kedua orangtua adalah perbuatan yang sangat dicintai Allah swt. (Muslim)
  • Barangsiapa bersyukur kepada Allah, tetapi tidak bersyukur kepada orangtuanya, maka syukurnya kepada Allah tidak diterima. (Abu Laits Samarqandi)
  • Orangtua adalah penyebab kita masuk surga atau neraka. (Ibnu Majah)
  • Urutan dalam berbakti adalah: Pertama kepada Ibu, lalu Ayah, lalu saudara wanita, saudara laki-laki, dan kerabat dekat. (BUkhari, Muslim, Tirmidzi)
  • Hendaknya memperlakukan dengan baik saudara wanita Ibu (Bibi). Mereka sama kedudukannya dengan Ibu kandung. (TIrmidzi)

Kewajiban Anak Terhadap Orangtuanya

  • Wajib berbakti kepada kepada kedua orangtua. Jika tidak berarti ia telah durhaka. Dan perbuatan durhaka adalah sifat syetan. (Maryam: 14-44) Tetap wajib berbakti kepada keduanya meskipun keduanya berbuat aniaya terhadap kita. (Baihaqi)
  • Bertambah umur orangtua, hendaknya lebih diperhatikan lagi oleh anaknya. (Al-Isra': 23)
  • Tidak dianjurkan menaati orangtua apabila mereka melarang dari menunaikan kewajiban. (Al-Gazali) *Misalnya: melarang menuntut ilmu, sholat wajib, dsb.
  • Sebaiknya jangan bepergian tanpa izin orangtuadalam mengerjakan sunah. (Al-Ghazali) *Misalnya: beribadah haji sunah.
  • Surga itu berada di bawah telapak kaki Ibu. (Nasa’i, Ibnu Majah) *Sebaiknya memenuhi dahulu panggilan Ibu jika ia memanggil, meskipun sedang sholat. (Tirmidzi) Sebagaimana kisah Juraiz.
  • Anak wajib menafkahi orangtuanya yang telah udzur. (Asy-Syafi’i, Abu Dawud)
  • Wajib menggembirakan orangtua sebagaimana menggembirakan dirinya sendiri. Dan jauhkanlah segala yang dibenci orangtua sebagaimana menjauhkan dari diri sendiri dari apa yang dibenci. (Abu Laits Samarqandi)
  • Jika seorang Ayah memerintahkan anaknya agar menceraikan istrinya (dengan alasan jelas), maka anak hendaknya menceraikannya walaupun ia sangat mencintainya. Itu termasuk berbakti terhadap Ayah. (Abu Dawud)
  • Anak hendaklah mengajak orangtuanya ke jalan yang benar, dan mengingatkannya jika mereka berbuat mungkar. (Maryam: 45)

Larangan Anak Terhadap Orangtua

  • Haram mengucapkan ‘ah’, dan atau segala ucapan yang tidak baik dan tidak sopan yang menyebabkan orangtua tersinggung. Juga membentak, memarahi, atau bersuara keras kepada orangtuanya. Setiap anak harus merendahkan diri terhadap orangtuanya. (Al-Isra': 23)
  • Haram mendurhakai orangtua, karena termasuk dosa besar. (Tirmidzi) *Pendurhaka orangtua tidak akan bahagia. (Abu Laits Samarqandi)
  • Haram menyia-nyiakan orangtua, sebab mereka adalah pintu masuk surga. (Tirmidzi)
  • Haram mencaci Ayah orang lain, yang berarti mencaci Ayahnya sendiri. (Tirmidzi)
  • Jangan memanggil orangtua dengan namanya. Panggillah dengan sebutan yang hormat dan sayang, seperti: Abah, Abi, Ummi, Ayah, Ibu, dsb.. (Al-Ghazali)
  • Orang yang tidak mengakui Ayah kandungnya, haram baginya masuk surga. (Muttafaqun Alaih)
  • Jangan berbicara di depan orangtua tanpa seizin mereka. Dan jangan berjalan di depannya, berjalanlah di belakangnya, sebagaimana seorang budak berjalan di belakang tuannya. (Farkad As-Siryi)
  • Jangan bersumpah atas nama kedua orangtua. (Nasa’i)
  • Jangan malas dan bermuka masam melayani orangtua. Hendaknya melayani mereka yang memerlukan bantuan dengan pebuh kasih sayang, karena mereka telah membesarkan kita dengan susah payah. (Abu Laits Samarqandi)

Mendoakan Orangtua

  • Setiap anak hendaknya mendoakan orangtuanya. Minimal dengan doa:

“Rabbighfirli waliwaa lidayya warhamHuma kamaa rabbayaani shaghiiraa”

(Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah kedua Ibu-Bapakku sebagaimana mereka telah mengasihi aku sewaktu kecil)

(Al-Isra': 23)

  • Mendoakan orangtua lima kali sehari, berarti telah memenuhi hak keduanya. (Abu Laits Samarqandi)
  • Tidak mendoakan orangtua berarti mempersempit rezeki si anak itu sendiri. (Abu Laits Samarqandi)
  • Sesungguhnya doa anak yang shalih dapat meninggikan derajat kedua orangtuanya di surga kelak. (Ibnu Majah)
  • Hendaknya selalu minta didoakan oleh orangtua. Doa orangtua terhadap anaknya termasuk doa yang dikabulkan oleh Allah swt.. (Tirmidzi)

Jika Orangtua Telah Tiada

  • Jika kita pernah berbuat tidak baik kepada Ibu, kemudian ia meninggal dunia, maka berbuat baik dengan saudara Ibu (Bibi atau Paman) adalah jalan untukk bertaubat dari perbuatan yang telah lalu. (Tirmidzi)
  • Berbuat baik terhadap orangtua walaupun sudah tiada dengan cara: Mendoakan rahmat bagi keduanya, Memohonkan ampunan atas dosa-dosa keduanya, Melaksanakan janjinya yang belum dilaksanakan, Menyambung silaturrahim kepada sahabat Bapak. (Abu Dawud)
  • Dianjurkan bersedekah untuk kedua orangtua yang telah wafat, karena dapat menyenangkan keduanya walaupun telah tiada. (Abu Laits Samarqandi)

Hikmah Memelihara Jenggot

Mengapa harus memelihara jenggot?

  • Mentaati perintah Allah dan menghidupkan sunnah Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda, “..Barangsiapa menghidupkan sunnahku sungguh ia cinta padaku. Dan barangsiapa mencintaiku, ia akan bersamaku di dalam surga.(penggalan hadits, dari sahabat Anas r.a., H.r. Tirmidzi)

Rasulullah saw. bersabda, “Cukurlah kumis dan peliharalah jenggot.(H.r. Muslim)

  • Membedakan seorang muslim dengan kaum musyrikin.

Berbedalah dengan kaum musyrikin, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis.(H.r. Tirmidzi)

  • Kesehatan

Dalam riset yang sedang dikaji para ilmuwan Amerika dan Eropa, mereka mencoba meneliti Islam lebih dalam, termasuk jenggot yang dimiliki para ulama muslim, hasil yang menakjubkan adalah:

  1. Jenggot secara alamiah mengontrol kandungan minyak di wajah.
  2. Jika tumbuh 1 helai jenggot, maka akan tumbuh jenggot halus di sekitarnya.
  3. Dalam 1 helai jenggot dapat menyerap lebih dari satu unsur yang menyebabkan wajah terlihat kusam.
  4. Jika jenggot tersebut dicukur, maka membutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkannya secara alami.
  5. Hal terakhir yang masih diteliti, sifat orang yang memiliki jenggot lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Jamaah tabligh, Dakwah Tabligh, Khuruj, Bayan

Jamaah tabligh, Dakwah Tabligh, Khuruj, Bayan, dakwah islam, dakwah nabi, dakwah rasulullah,contoh Dakwah, Dakwah Nabi Muhammad, Sejarah dakwah, Kisah Nabi, Kisah Islam, Mendidik karakter, Shahabat Nabi

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Iman dan Amal Soleh

Kebahagian Kesuksesan Manusia Hanya Dalam Amal Agama Yang Sempurna

Places Unknown

Dmitrii Lezine's fine art photography, travel photography, free HDR Tutorial, photography tips, camera reviews and photo editing software.

b a a s r

belajar adab-adab sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Penulis Super

Menulis segala Hal Yang Berguna Untuk Anda | Trik Menarik | Tips Terbaru | Hal Yang Paling Super Saat Ini dan Rahasia | Cara Mengetahui sifat, karakter, watak dan kepribadian seseorang

Photo Nature Blog

Nature and Outdoor Photography by Jeffrey Foltice

Love thy bike

A love of photography, cycling and exploring places on two wheels.

Bacalah!

Membuka Pikiran Anda

"ALL MANAGEMENT INSIGHT, CATATAN PERKULIAHAN"

Teori, Artikel, Resensi Buku, Motivasi, kisah sukses, dan Mozaik sekitar ilmu manajemen

grizanderson

...from the middle of nowhere

Abu Fahd Negara Tauhid

Agen Herbal & Buku Islami, Pecinta Alam, Adventure

Merajut Kata

Untuk-MU, ALLAH-ku.. Untuk Mereka, Orangtuaku.. Untukmu, Saudaraku..

Agus Ibnu Syofiardy

"QOYYIDUL 'ILMA BIL KITABI" (Ikatlah Ilmu dengan Tulisan)

sendaljepitblog

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Akhmad Muhaimin Azzet

belajar berbagi agar bahagia

Iwan blog world

ILMIAH - KONSTRUKTIF - INSPIRATIF

Fiaspirit's Blog

Just another WordPress.com site

Catatan SederhaNa

because life is a story

TEORI-ONLINE

References, Tutorials and Discussion

Broto Blog

Hidup adalah pilihan, tentukan pilihan itu sekarang atau pilihan yang akan menentukanmu

selembar kertasku

merubah peradaban dunia dengan pemikiran dan tulisan

almubayyin

Just another WordPress.com site

MANAJEMEN OPERASI/PRODUKSI

Blog Mata Kuliah : Program MM-UHAMKA

Sebuah Coretan

>>> Aksi Dan Reaksi Semesta <<<

~p0c0ng~

Not luxorious just simple place

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.147 pengikut lainnya.